Showing posts with label Kerinci. Show all posts
Showing posts with label Kerinci. Show all posts

DANAU GUNUNG TUJUH : Danau Tertinggi di Asia Tenggara

Kerinci boleh bangga dengan keberadaan Danau Gunung Tujuh yang merupakan danau tertinggi di Asia Tenggara. Selain itu keberadaan Danau Kerinci yang merupakan terbesar kedua setelah Danau Toba di Sumatera Utara. Serta terdapat bbeberapa danau kecil lainnya dengan keindahan alamnya yang unik. Danau Belibis dengan alam yang masih asli memberikan sentuhan yang berbeda.
                  Danau Gunung Tujuh merupakan danau kaldera yang terbentuk akibat kegiatan gunung berapi di masa lampau. Pada ketinggian 1.996 m dpl, danau ini merupakan danau tertinggi di Asia Tenggara. Danau ini sering ditutupi kabut dengan suhu rata-rata 17 0C. Luas Danau ± 960 ha dengan panjang berkisar 4,5 km dan lebar 3 km. Danau ini dikelilingi oleh tujuh gunung, yaitu Gunung Hulu Tebo (2.525 meter), Gunung Hulu Sangir (2.330 m), Gunung Madura Besi (2.418 m), Gunung Lumut yang ditumbuhi berbagai jenis lumut (2.350 m), Gunung Selasih (2.230 m), Gunung Jar Panggang (2.469 m), dan Gunung Tujuh (2.735 m). 
                  Danau Gunung Tujuh dikenal sebagai Danau Sakti oleh masyarakat Kerinci. Air danau selalu terlihat bersih bahkan daun-daun pun tidak ditemukan walaupun terdapat banyak pohon tumbang dipinggir danau. Menurut masyarakat sekitar Kejadian-kejadian aneh sering terjadi, seperti perubahan cuaca secara tiba-tiba. Pada saat pembukaan wilayah danau, salah seorang pekerja menceritakan bahwa perahu yang ditumpanginya berputar di tengah danau tanpa penyebab yang jelas. 
                  Masyarakat sekitar percaya bahwa Danau Gunung Tujuh dihuni oleh mahkluk halus yang berwujud manusia, bernama “Lbei Sakti” dan “Saleh Sri Menanti” dengan beberapa pengikutnya yang berwujud harimau. 
                  Danau Gunung Tujuh merupakan sumber penghidupan bagi beberapa warga desa. Terdapat beberapa pondok dipinggir danau yang digunakan oleh nelayan sebagai tempat tinggal. Sehari-hari para nelayan mencari ikan dengan perahu dan lukah, pagi hari lukah dipasang di tengah danau kemudian sorenya lukah ini diangkat. 
                  Perahu yang digunakan terbuat dari satu kayu bulat utuh dengan diameter berkisar 30-40 cm, kemudian dengan pengerjaan sedemikian rupa kayu bulat ini dibentuk seperti perahu. Lukah yang digunakan oleh nelayan terbuat dari bilah-bilah bambu yang dianyam. Lukah ini diikat pada bagian tengah tali, pada ujung tali diikatkan botol minuman (sejenis botol Aqua) dan batu pada ujung lainnya sebagai pemberat.
                  Danau ini terletak di Desa Pelompek Kecamatan Kayu Aro dengan jarak ± 56 km dari Sungai Penuh. Untuk menikmati keindahan dan kesejukkan udara Danau Gunung Tujuh pengunjung harus berjalan kaki melewati jalan setapak selama 2-3 jam.
Read more ...

Kerinci

Kabupaten Kerinci adalah salah satu kabupaten di Provinsi Jambi, Indonesia. Luas wilayahnya 4,200 km² dengan populasi 300,000 penduduk. Ibu kotanya ialah Sungai Penuh. Penduduknya terdiri dari suku Austronesia, Malayo-Polynesia, Malayo-Polynesia Barat, Sundik, Malayik, Malayan, Melayu. Penduduknya bertutur dalam loghat dialek: Ulu, Mamaq, Akit, Talang dan Sakei. Daerah dari dialek Kerinci-Minangkabau di Minangkabau.

Nama ‘Kerinci’ berasal dari bahasa Tamil “Kurinci”. Tanah Tamil dapat dibagi menjadi empat kawasan yang dinamakan menurut bunga yang khas untuk masing-masing daerah. Bunga yang khas untuk daerah pegunungan ialah bunga Kurinci (Latin Strobilanthus. Dengan demikian Kurinci juga bererti 'kawasan pegunungan'.
Di zaman dahulu Sumatra dikenal dengan istilah Swarnadwipa atau Swarnabhumi (tanah atau pulau emas). Kala itu Kerinci, Lebong dan Minangkabau menjadi wilayah penghasil emas utama di Indonesia (walaupun kebanyakan sumber emas terdapat di luar Kabupaten Kerinci di daerah Pangkalan Jambu, Kabupaten Merangin). Di daerah Kerinci banyak ditemukan batu-batuan Megalithicum dari zaman Gangsa (Bronze Age) dengan pengaruh Buddha termasuk keramik Tiongkok. Hal ini menunjukkan wilayah ini telah banyak berhubungan dengan dunia luar.
Awalnya ‘Kerinci’ adalah nama sebuah gunung dan danau (tasik), tetapi kemudian wilayah yang berada di sekitarnya disebut dengan nama yang sama. Dengan begitu daerahnya disebut sebagai Kerinci (“Kurinchai” atau “Kunchai” atau “Kinchai” dalam bahasa setempat), dan penduduknya pun disebut sebagai orang Kerinci.

Menurut Tambo Alam Minangkabau, Daerah Rantau Pesisir Barat (Pasisie Barek) pada masa Kerajaan Alam Minangkabau meliputi wilayah-wilayah sepanjang pesisir barat Sumatra bahagian tengah mulai dari Sikilang Air Bangis, Tiku Pariaman, Padang, Bandar Sepuluh, Air Haji, Inderapura, Muko-muko (Bengkulu) dan Kerinci. Dengan demikian Kerinci merupakan daerah Minangkabau.
Pada waktu Indonesia merdeka, Sumatera bahagian tengah mulai dipecah menjadi 3 provinsi:
  1. Sumatera Barat (meliputi daerah Minangkabau)
  2. Riau (meliputi wilayah kesultanan Siak, Pelalawan,Rokan,Indragiri, Riau-Lingga ditambah Rantau Minangkabau Kampar dan Kuantan)
  3. Jambi (meliputi bekas wilayah kesultanan Jambi ditambah Rantau Minangkabau Kerinci)

Dengan demikian sebenarnya Orang Kerinci hidup dengan budaya Minangkabau namun menjadi orang Jambi.

Kerinci berada di ujung barat Provinsi Jambi, berbatasan dengan Provinsi Sumatera Barat (Minangkabau) di sebagian barat dan utara. Di selatan mereka berbatasan dengan Provinsi Bengkulu.
Daerah Kerinci ditetapkan sebagai sebuah Kabupaten sejak awal berdirinya Provinsi Jambi, dengan pusat pemerintahan di Sungai Penuh. Daerah Kerinci memiliki luas 4.200 km2 terdiri atas 11 kecamatan (yang merupakan rangkaian kampung atau pemukimam). Statistik tahun 1996 menunjukkan populasi suku Kerinci sekitar 300.000 jiwa.

Budaya Kerinci sangat khas. Tari-tariannya adat merupakan campuran Minangkabau dan Kerinci serta Melayu. Misalnya, Tari Joged Sitinjau Laut. Lagu-lagu Kerinci juga terkenal unik. Pakaian adatnya juga sangat indah. Rumah suku Kerinci disebut "Larik" dan merupakan adalah bangunan yang terdiri dari beberapa deretan rumah petak yang bersambung-sambung. Di Jambi, Kerinci adalah satu-satunya wilayah yang menganut adat Perpatih Minangkabau (Matrilineal).

Bahasa Kerinci termasuk salah satu anak cabang bahasa Austronesia yang dituturkan dengan dialek Kerinci. Bagi masyarakat bagian pesisir barat Minangkabau, Bahasa Kerinci tidak begitu asing, namun menjadi agak aneh bagi orang daerah lain di Jambi yang condong ke Melayu Palembang dan Melayu Riau. Salah satu yang khas dari dialek Kerinci di antaranya adalah melafalkan ‘i’ menjadi ‘ai’ misal: ‘Orang Kerinci pergi ke Jambi’ diucapkan ‘Uhang Kinchai lalau ka Jamboi’, atau melafalkan ‘a’ menjadi ‘ea’ atau ‘oi’ misal : "bila" menjadi "bilea", "atas menjadi "atoih", "Tadi menjadi "tadoih".
Ada lebih dari 30 dialek bahasa yang berbeda di tiap-tiap desa di daerah Kerinci. Seperti pengucapan 'Anda', di Desa Lempur (Kec. Gunung Raya) diucapakan dengan "Kaya" sedangkan di Kec. Sungai Penuh diucapakan dengan "Kayo". Perbedaan dialek ini juga ditandai dengan dengan perbedaan budaya yang ada di masing-masing desa di Kerinci.

Read more ...

Cerita Danau Kerinci

            
Danau Kerinci, danau terbesar di provinsi Jambi ini menyimpan pesona yang luar biasa. Danau ini memiliki luas sekitar lima ribu meter persegi di ketinggian 783 meter di atas permukaan air laut. Gunung-gunung tinggi mengelilingi danau Kerinci, salah satunya adalah Gunung Raja.
              Menurut legenda danau Kerinci dulu disebut danau Gedang. Luas danau Gedang meliputi seluruh lembah Kerinci sekarang mulai dari kaki gunung Kerinci di utara sampai kaki gunung Raya di selatan. Di dasar danau Gedang berdiam seekor naga raksasa bernama Calungga. Calungga mempunyai adik seorang manusia bernama Calupat.
              Dulunya Calungga adalah seorang manusia. Dia dan Calupat tinggal di pinggir danau Gedang. Suatu saat Calungga memakan sebutir telur naga yang  ditemukannya di hutan. Calungga tiba-tiba berubah menjadi naga dan wataknya menjadi beringas. Takut terjadi apa-apa,  Calungga menyuruh adiknya Calupat menyingkir jauh serta Calungga sendiri terbang menuju danau Gedang. Dengan hati sedih, Calupat berlari menjauh dari kakaknya yang telah berubah menjadi naga.
              Setelah beberapa tahun menahan rindu, Calupat akhirnya ingin bertemu dengan Calungga. Calungga menemui adiknya di tepi danau dan Calungga berenang menyusuri danau terus ke sungai yang berhulu di danau. Sungai yang kecil dijebol oleh Calungga sehingga dia bisa lewat. Air  danau yang melimpah lama-lama menjadi surut karena dijebol oleh Calungga. Danau Gedanag yang dulu airnya banyak akhirnya menjadi kecil hanya seluas danau Kerinci sekarang ini. Lahan bekas danau Gedang yang luas menjadi lembah Kerinci.
               Masyarakat Kerinci khususnya masyarakat di sekeliling danau Kerinci hidup amat bergantung kepada danau ini. Disinilah masyarakat menebar benih harapan, mencari ikan, membuat karamba dan bertani dengan menanam padi di seputar danau. Selain itu pasir danau Kerinci juga ditambang sebagai material bangunan untuk dijual di seluruh wilayah kabupaten Kerinci.
               Oleh pemkab danau Kerinci dimanfaatkan sebagai sumber air baku PDAM Tirta Sakti. Selain itu diadakan Festival Masyarakat Peduli Danau Kerinci (FMPDK) setiap tahun sebagai sarana untuk mempromosikan wisata danau Kerinci. Lokasi festival di pesanggrahan Sanggaran Agung tidak jauh dari jalan raya Sungai Penuh – Jambi; sekitar tiga puluh menit perjalanan dari Sungai Penuh. Beberapa acara digelar untuk mengisi acara ini seperti lomba tari, parade budaya, pameran wisata dan pembangunan. Meski demikian, festival ini kurang begitu terdengar gaungnya. Pengunjung yang datang kesini hanya masyarakat lokal dan dari daerah tetangga.
Read more ...

Asal-usul nenek moyang Kerinci

Berbicara asal usul uhang kincai,menurut Umar Ali ( 70 ) mantan Depati Atur Bumi Hiang mengungkapkan bermula dari lembaran sejarah Iskandar Zulkarnain Menikah  dengan Zailun melahirkan empat orang anak, yaitu :
Maharajo Alif di negeri RUM
Maharajo Dipang di negeri China/Jepang
Maharajo Dirajo di Minangkabau ( Pariangan Padang Panjang)
Indarjati di Pariangan Tinggi ( Hiang Tinggi)
 
 Indarjati menikah dengan Indi Jelatah melahirkan keturunan 2 orang yaitu 
1.Perpatih nan Sebatang Tinggal di pariangan padang panjang
2. Indarbayo.ikut ke luhak alam kerinci
Indarjati dan anaknya Indarbayo berlayar pula keluhak alam kerinci sedangkan perpatih nan Sebatang karena asik pula bermain dengan rekannya, ia tak ikut serta, kemudian di persiapkan alat untuk berangkat, pertama payung sekaki, tombak nan sebuah, keris nan satu, di bawa pula kambing nan seekor.

             Dalam perjalanan menuju luhak Alam Kerinci. Ia kesulitan karena medan tempuh rute laut lepas, Alloh menurunkan petunjuk dengan menerbangkan daun sintuh dengan berlabuh di gunung Jelatang.
Tahun berlalu musim berganti, Indarjati dan istrinya mendapatkan keturunan 3 orang yaitu :
Indar tunggal atau Indar Bersusu Tunggal, inilah yang biasa disebut “nenek bersusu tunggal ‘ di Gunung Jelatang Periangan Tinggi.
Indar nan Beterawang Lidah tinggal di Gunung Jelatang periangan Tinggi
Indi Maryam Merantau ke negeri sembilan malaysia.
Setelah Indar Bersusu Tunggal dewasa, maka ia menikah dengan dengan “ Samiah. Dari pernikahan ini ia memperoleh anak :
Puti Dayang Indah tinggal di gunung Jelatang periangan Tinggi, Koto Jelatang Hiang Tinggi
Puti Dayang ramayah tinggal di Kemantan
Puti (putri) Dayang Rawani di Talang Jeddah Jambi
Kemudian Puti Dayang Indah  melahirkan 5 orang anak, yaitu :
dari Indah
dari Setu
Indi Cincin
Mipin
Mas jamain
Dari Lima inilah yang disebut dengan nenek limo Hiang Tinggi – Hiang Karya

Puti Dayang Ramayah melahirkan anak satu orang , yaitu :
Si Bungo Alam
Puti dayang Rawani menikah dengan seorang laki-laki asal Jawa Mataram yaitu Diwan Abdul Rahman, melahirkan keturunan bertempat tinggal di jambi, yaitu :
Karban
Kartan
Kalipan
Lalu Puti dayang Rawani dan suaminya pergi ke Jawa Mataram dan melahirkan 3 orang anak yaitu : 1. Nahkudo belang. 2. Nahkudo Kumbang, dan 3. Gajah Mada.(tertulis di aur Kuning berbahasa Jawa Kuno yang masih disimpan di rumah gedang nenek limo Hiang Tinggi- Hiang Karya )
1. Dari Indah melahirkan pula :

1.      Incik Permato Mendiami Koto pandan Pondok Tinggi
2.      Intan Permato Mendiami Pulau Sangkar
3.      Lilo Permato Mendiami Muara Kerinci Sandaran Agung (Sanggaran Agung)

2. Dari Setu  melahirkan keturunan tiga orang, Yaitu :
Pajinak mendiami latin Limau Sering S. Penuh
Ungguk Mendiami Koto Beringin Rawang
Mangku Agung Mendiami Tebat tinggi

3. Indi Cincin melahirkan keturunan :
Si Jaburiyah ( ambai )
Si Jaburino ( Betung kuning )
4. Mipin  melahirkan satu orang yaitu Siti Padan ( Koto Baru Hiang)
5. Mas Jamain Suaminya Sutan maalim Hidayah asal pagaruyung melahirkan keturunan :
1. Serujan Angin ( Temiai )
2. Tiang Bungkuk ( Hulubalang Temiai )

            
                Dituturkan Indarjati yang gaib yang tiada kembali dalam persemedian di alam gaib. Indar Bersusu Tunggal  gelar Depati Batu Hampar. Setelah melihat kehilir kemudik air laut telah surut, maka dipecahlah pembagian wilayah, untuk menunggu negeri yang dibagi masing-masing :
Incik permato menunggu latih Koto Pandan, Pondok Tinggi
Pajinak menunggu Koto limau Sering Sungai Penuh
Ungguk menunggu latih Koto Beringin Rawang
Mangku Agung menunggu Tebat tinggi, S. Tutung
Si Bungo Alam Menunggu  Talang Banio Kemantan
Puti Dayang ramayah menunggu Kemantan Darat.
Dari pembagian inilah yang disebut Latih Yang Enam Luhak Alam Kerinci.

-Sementara itu di sebelah hilir Serujan angin menunggu Temiai yang mewarisinya Depati Muaro           Langkap
-Lilo Permato menunggu Pulau Sangkar yang mewarisinya Depati Rencong Telang
-Intan Permato  Sanggaran Agung dan Pengasi yang mewarisinya Depati Biang sari 


                Kemudian Indar bersusu Tunggal diangkat pula Sultan Maalim Hidayah menjadi Depati Atur Bumi. Ini disebut Depati 4 alam kerinci, yaitu :
Depati Atur Bumi di Hiang/Depati Batu Hampar
Depati Biang sari di Pengasi
Depati Rencong Telang Di pulau sangkar
Depati Muaro Langkap di Temiai
Ini disebut 4 diateh ( Kerinci Tinggi ),kemudian didirikan pula kerinci rendah ( 3 di baruh ), yaitu :
1.      Karban mewarisi Depati Setio Rajo di nalo tantan, Bangko
2.      Kartan mewarisi Depati Setio Nyato di perentak,s. manau
3.      Kalipan mewarisi Depati setio Betui di  limbur tanah tumbuh
Si Bungo Alam melahirkan tiga orang anak, Yaitu :
Cik Kerah ( Kemantan )
Cik Kudo ( Kemantan )
Si Jago-jago Hulubalang Rajo Siulak.

                Datang pula dari jambi bandaro Putih sebutan Pangeran Temenggung dengan membawa kain kehormatan  di berikan kepada depati muaro Langkap di temiai, depati rencong Telang di pulau Sangkar, depati Biang sari di Pengasi dan Depati Atur Bumi di Hiang.
Oleh Depati Atur Bumi di bagi pula kain kebesaran olehnya dengan delapan bahagian, yaitu :
Rawang Mudik                      : Depati cayo Negeri
Rawang Hilir                          : Depati Mudo Manggalo Batarawang Lidah
Tanah Kampung                     : Depati Kepalo Ino
Semurup/Siulak                      : Depati Kepala Sembah
Koto Tuo/Sekungkung : Depati Kuning/Depati Tujuh
Penawar                                  : Depati Penawar/Depati Mudo Terawang Lidah
Seleman                                  : Depati Tarah Bumi/Depati Serah Bumi Sirahmato
Hiang                                      : Depati Atur Bayo
Khusus Sungai Penuh Depati Ngabei
 Ini disebut Negeri  delapan helai kain yang dikepalai Depati Atur Bumi Hiang
 
            Ada beberapa bukti pusaka, bukti dari zaman kerajaan ini yang dinilai masih memiliki nilai mistik, diantaranya keris samapi kini dinyatakan hilang, sedang tombak dan gading gajah masih tersimpan. Konon apabila diritualkan di musim panas bisa mendatangkan karomah berupa hujan deras.
            Semua Pusako ini tersimpan di rumah pusako Deapti Atur Bumi yang hanya di turunkan secara sakral bila ada kenduri sko yang dilaksanakan lima tahun sekali.
            Empat diatas ( Kerinci Tinggi )meliputi daerah kerinci yang pemerintahannya diselenggarakan oleh 4 Depati ( Depati 4 Alam Kerinci ), yaitu :
Depati Muaro Langkap Temiai Dan Depati Biang Sari Pengasi Menguasai Tanah Sebelah Tenggara Dan Timur Danau Kerinci
Depati Rencong Telang Berpusat Di Pulau Sangkar Dengan Daerah Keuasaannya Tanah Sebelah Barat Dan Selatan Danau Kerinci
Depati Atur Bumi/Depati Batu Hampar Berpusat Di Hiang Meliputi Tanah Sebelah Barat Laut Dan Tenggara Danau Kerinci Sampai Gunung Kerinci

Tiga di baruh ( Kerinci Rendah ) Yaitu :
Daerah Bangko atas meliputi daerah Depati Setio Rajo Lubuk Gaung, nalo Tantan, bangko
Depati Setio Nyato di Perentak , Sungai manau
Depati Setio betui di Tanah Tumbuh.

Bangko Di bawah terdiri dari :
Daerah batin IX ( Batin IX Ulu dan Batin IX Ilir )
dan daerah induk Enam yang disebut luhak XVI meliputi daerah :
-         Tiang Pumpung
-         Dusun Tuo
-         Sanggerahan
-         Sungai Tenang
-         Serampas
-         Pemberap
Read more ...

Misteri Gunung Kerinci

"Uhang Pandak” atau Orang Pendek, merupakan misteri sejarah alam terbesar di Asia. Keberadaan Orang Kerdil ini, telah memancing ahli binatang untuk mendaftarkan laporan kera misterius ini di wilayah Taman Nasional Kerinci Seblat, Propinsi Jambi, lebih dari 150 tahun.

Setiap daerah pasti memiliki kepercayaan tentang makhluk-makhluk Bunian. Di daerah Bengkulu, orang Bunian disebut "Sebabah" yang merupakan satu bentuk yang mirip dengan manusia, hanya saja mereka bertubuh kecil dan berkaki terbalik.

Lebih ke daerah pedalamannya lagi, ada juga kisah tentang makhluk Gugua, yang mempunyai perawakan berbulu lebat, pemalu, dan suka menirukan tingkah laku dan perbuatan manusia.

Konon pada zaman dahulu, makhluk ini bisa ditangkap. Masyarakat dahulu menangkap makhluk ini dengan menyiapkan sebuah perangkap. Ada juga kisah tentang perkawinan makhluk ini dengan penduduk lokal, lalu mempunyai keturunan.




Sampai hari ini, makhluk di gunung Kerinci yang dikenal sebagai “uhang pandak”, memiliki variasi yang membingungkan dari nama dialek setempat. Sampai sekarang pun masih belum teridentifikasi oleh ilmuwan.

Orang pendek / uhang pandak ialah nama yang diberikan kepada seekor binatang (manusia atau bunian) yang sudah dilihat banyak orang selama ratusan tahun. Kerap kali muncul di sekitar Taman Nasional Kerinci Seblat, Jambi.

Walaupun tak sedikit orang yang pernah melihatnya, keberadaan uhang pandak hingga sekarang masih merupakan teka-teki. Tidak ada seorang pun yang tahu sebenarnya makhluk jenis apakah yang sering disebut sebagai orang pendek itu.

Tidak pernah ada laporan yang mengabarkan, bahwa seseorang pernah menangkap atau bahkan menemukan jasad makhluk ini. Namun, hal itu berbanding terbalik dengan banyaknya laporan dari beberapa orang yang mengatakan pernah melihat makhluk tersebut.




Sekedar informasi, orang pendek ini masuk ke dalam salah satu studi Cryptozoology. Ekspediasi pencarian Orang Pendek sudah beberapa kali dilakukan di Kawasan Kerinci, salah satunya adalah ekspedisi yang di danai oleh National Geographic Society.

National Geographic sangat tertarik mengenai legenda Orang Pendek di gunung Kerinci, Jambi. Bahkan, beberapa peneliti telah mereka kirimkan kesana untuk melakukan penelitian mengenai makhluk tersebut.

Adapun cerita mengenai uhang pandak pertama kali ditemukan dalam catatan penjelajah gambar jejak, Marco Polo, 1292, saat ia bertualang ke Asia. Walau diyakini keberadaannya oleh penduduk setempat, makhluk ini dipandang hanya sebagai mitos belaka oleh para ilmuwan, seperti halnya "Yeti" di Himalaya dan monster "Loch Ness" Inggris Raya.

Sejauh ini, para saksi yang mengaku pernah melihat Orang Pendek menggambarkan tubuh fisiknya sebagai makhluk yang berjalan tegap (berjalan dengan dua kaki), tinggi sekitar satu meter (diantara 85 cm hingga 130 cm), dan memiliki banyak bulu diseluruh badan. Bahkan tak sedikit pula yang menggambarkannya dengan membawa berbagai macam peralatan berburu, seperti semacam tombak.




Legenda Mengenai Uhang Pandak sudah secara turun-temurun dikisahkan di dalam kebudayaan masyarakat "Suku Anak Dalam". Mungkin bisa dibilang, suku anak dalam (Kubu) sudah terlalu lama berbagi tempat dengan para Orang Pendek di kawasan tersebut. Walaupun demikian, jalinan sosial diantara mereka tidak pernah ada.

Sejak dahulu, suku anak dalam bahkan tidak pernah menjalin kontak langsung dengan makhluk-makhluk ini, mereka memang sering terlihat, namun tak pernah sekalipun warga dari suku anak dalam dapat mendekatinya.

Ada sebuah kisah mengenai keputusasaan para suku anak dalam yang mencoba mencari tahu identitas dari makhluk-makhluk ini, mereka hendak menangkapnya, namun selalu gagal. Pencarian lokasi dimana mereka membangun komunitas mereka di kawasan Taman Nasional juga pernah dilakukan, namun juga tidak pernah ditemukan.

Awal tahun 1900-an, dimana saat itu Indonesia masih merupakan jajahan Belanda, tak sedikit pula laporan datang dari para WNA. Namun, yang paling terkenal adalah kesaksian Mr. Van Heerwarden di tahun 1923. Van Heerwarden adalah seorang zoologiest, dan disekitar tahun itu ia sedang melakukan penelitian di kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat.



Sosok Orang Pendek Laki-Laki Hasil Ilutrasi Gambar Sketsa Pensil 
Dari W. Wheatcroft (Januari 2008)


Pada satu catatan, ia menuliskan mengenai pertemuannya dengan beberapa makhluk gelap dengan banyak bulu di badan. Tinggi tubuh mereka ia gambarkan setinggi anak kecil berusia 3-4 tahun, namun dengan bentuk wajah yang lebih tua dan dengan rambut hitam sebahu. Van Heerwarden sadar, mereka bukan sejenis siamang maupun primata lainnya. Ia tahu makhluk-makhluk itu menyadari keberadaan dirinya saat itu, sehingga mereka berlari menghindar.

Satu hal yang membuat Mr. Heerwarden tak habis pikir, semua makhluk itu memiliki persenjataan berbentuk tombak dan mereka berjalan tegak. Semenjak itu, Mr. Heerwarden terus berusaha mencari tahu makhluk tersebut, namun usahanya selalu tidak berbuah hasil.

Sumber-sumber dari para saksi memang sangat dibutuhkan bagi para peneliti yang di danai oleh National Gographic Society untuk mencari tahu keberadaan Orang Pendek.

Dua orang peneliti dari Inggris, Debbie Martyr dan Jeremy Holden sudah lama mengabadikan dirinya untuk terus menerus melakukan ekspedisi terhadap eksistensi Orang Pendek. Namun, sejak pertama kali mereka datang ke Taman Nasional Kerinci di tahun 1990, hasil yang didapat masih jauh dari kata memuaskan.




Lain dengan peneliti lainnya, Debbie dan Jeremy datang ke Indonesia dengan di biayai oleh Organisasi Flora dan Fauna Internasional. Dalam ekspedisi yang dinamakan “Project Orang Pendek” ini, mereka terlibat penelitian panjang disana.

Secara sistematik, usaha-usaha yang mereka lakukan dalam ekspedisi ini antara lain adalah pengumpulan informasi dari beberapa saksi mata untuk mengetahui lokasi-lokasi dimana mereka sering dikabarkan muncul. Kemudian ada metode menjebak pada suatu tempat, dimana terdapat beberapa kamera yang selalu siap untuk menangkap aktivitas mereka.

Namun, akhirnya rasa putus asa dan frustasi selalu menghinggap di diri mereka, ketika hasil ekspedisi selama ini yang mereka lakukan, belum mendapat hasil yang memuaskan alias nihil.

Beberapa pakar Cryptozoology mengatakan, bahwa Orang Pendek mungkin memiliki hubungan yang hilang dengan manusia. Apakah mereka merupakan sisa-sisa dari genus Australopithecus?




Banyak Paleontologiest mengatakan, bahwa jika anggota Australopithecus masih ada yang bertahan hidup hingga hari ini, maka mereka lebih suka digambarkan sebagai seekor siamang.

Pertanyaan mengenai identitas Orang Pendek yang banyak dikaitkan dengan genus Australopitechus ini, sedikit pudar dengan ditemukannya fosil dari beberapa spesies manusia kerdil di Flores beberapa waktu yang lalu.

Fosil manusia-manusia kerdil “Hobbit” berjalan tegak inilah yang kemudian disebut sebagai Homo Floresiensis. Ciri-ciri fisik spesies ini sangat mirip dengan penggambaran mengenai Orang Pendek, dimana mereka memiliki tinggi badan tidak lebih dari satu seperempat meter, berjalan tegak dengan dua kaki, dan telah dapat mengembangkan perkakas/alat berburu sederhana, serta telah mampu menciptakan api. Diperkirakan hidup antara 35000 – 18000 tahun yang lalu.

Apakah keberadaan “Uhang Pandak” benar-benar merupakan sisa-sisa dari Homo Floresiensis yang masih dapat bertahan hidup? Secara jujur, para peneliti belum dapat menjawabnya.




Peneliti mengetahui, bahwa setiap saksi mata yang berhasil mereka temui mengatakan, lebih mempercayai Orang Pendek sebagai seekor binatang. Debbie Martyr dan Jeremy Holden, juga mempertahankan pendapat mereka, bahwa Orang Pendek adalah seekor siamang luar biasa dan bukan hominid.

Terlepas dari benar tidaknya mereka adalah bagian dari makhluk halus, binatang, atau pun ras manusia yang berbeda. Dunia tentunya masih menyimpan misteri tentang mereka yang harus terus dilakukan penelitian keberadaannya.
Bukankah berbagai peninggalan dan kerangka makhluk setengah kera Homo Floresiensis baru-baru ini ditemukan? Menjadi bukti, bahwa ada suatu komunitas makhluk diluar manusia modern yang pernah ada. Bisa jadi, “Uhang Pandak” yang tersembunyi dan penuh misteri selama ini, suatu hari ditemukan. Waktu jualah yang akan menjawabnya.

Naga penghuni gunung kerinci Infometafisik - Gunung Kerinci menyimpan legenda unik tentang naga raksasa. Di kisahkan pada jaman dahulu di kaki gunung kerinci hiduplah dua saudara kembar, Calupat dan Calungga. Keduanya sudah tidak berayah dan beribu lagi. Dua yatim piatu ini memiliki pusaka buah delima dan batu putih peninggalan orang tuanya. Suatu hari Calungga pergi berburu seorang diri. Dalam perburuanya itu, ia menemukan sebutir telur raksasa. Telur itu kemudian dibawanya pulang sekaligus ingin diperlihatkan kepada sang adik Calupat. Namun, sebelum sampai dirumah, Calungga berubah pikiran. Calungga memutuskan untuk memakan telur itu. Setelah menyantap telur raksasa, Calungga merasa kehausan. Tapi anehnya rasa dahaga Calungga tidak pernah hilang meski dia telah mengeringkan air sungai yang mengalir di kaki Gunung Kerinci. Dalam waktu bersamaan tubuh Calungga lambat laun berubah wujud. Tubuhnya memanjang dan memiliki sisik-sisik emas sebesar nyiru atau tampah. Calungga berubah menjadi seekor naga raksasa dengan batu mustika merah delima di kepalanya. Calungga yang sudah berubah wujud menjadi naga raksasa menjadi sakti. Hanya dengan sekali putaran tubuhnya, lembah di kaki Gunung Kerinci menjadi sebuah danau yang dikenal Danau Bento. Calupat, Sang adik rupanya tidak mampu hidup seorang diri. Ia pun meminta Naga Calungga mengantarkan ke perkampungan penduduk di sebelah timur matahari terbit. Tujuanya agar ia dapat hidup berdampingan dengan penduduk. Dengan hanya sekali tiup, terbentuklah sebuah sungai. Sungai itu dinamakan Muara Angin atau sungai Batang Merangin. Kemudian air sungai tersebut menyusut saat Naga Calungga berjalan ke timur, seperti permintaan adiknya, Calupat. Bekas aliran sungai itu menjadi Danau Kerinci. Sesampainya di perkampungan yang dituju, Calupat duduk di atas kepala Naga Calungga. Maka penduduk menobatkan Calupat sebagai raja bergelar Sang Hyang Jaya Naga.

Source: http://www.infometafisik.com/2013/09/misteri-naga-raksasa-penghuni-gunung.html
Disalin dari WWW.INFOMETAFISIK.COM | konten ini memiliki hak cipta.
Home » kisah » Misteri Naga Raksasa Penghuni Gunung Kerinci Misteri Naga Raksasa Penghuni Gunung Kerinci evolusi metafisik Add Comment kisah Naga penghuni gunung kerinci Infometafisik - Gunung Kerinci menyimpan legenda unik tentang naga raksasa. Di kisahkan pada jaman dahulu di kaki gunung kerinci hiduplah dua saudara kembar, Calupat dan Calungga. Keduanya sudah tidak berayah dan beribu lagi. Dua yatim piatu ini memiliki pusaka buah delima dan batu putih peninggalan orang tuanya. Suatu hari Calungga pergi berburu seorang diri. Dalam perburuanya itu, ia menemukan sebutir telur raksasa. Telur itu kemudian dibawanya pulang sekaligus ingin diperlihatkan kepada sang adik Calupat. Namun, sebelum sampai dirumah, Calungga berubah pikiran. Calungga memutuskan untuk memakan telur itu. Setelah menyantap telur raksasa, Calungga merasa kehausan. Tapi anehnya rasa dahaga Calungga tidak pernah hilang meski dia telah mengeringkan air sungai yang mengalir di kaki Gunung Kerinci. Dalam waktu bersamaan tubuh Calungga lambat laun berubah wujud. Tubuhnya memanjang dan memiliki sisik-sisik emas sebesar nyiru atau tampah. Calungga berubah menjadi seekor naga raksasa dengan batu mustika merah delima di kepalanya. Calungga yang sudah berubah wujud menjadi naga raksasa menjadi sakti. Hanya dengan sekali putaran tubuhnya, lembah di kaki Gunung Kerinci menjadi sebuah danau yang dikenal Danau Bento. Calupat, Sang adik rupanya tidak mampu hidup seorang diri. Ia pun meminta Naga Calungga mengantarkan ke perkampungan penduduk di sebelah timur matahari terbit. Tujuanya agar ia dapat hidup berdampingan dengan penduduk. Dengan hanya sekali tiup, terbentuklah sebuah sungai. Sungai itu dinamakan Muara Angin atau sungai Batang Merangin. Kemudian air sungai tersebut menyusut saat Naga Calungga berjalan ke timur, seperti permintaan adiknya, Calupat. Bekas aliran sungai itu menjadi Danau Kerinci. Sesampainya di perkampungan yang dituju, Calupat duduk di atas kepala Naga Calungga. Maka penduduk menobatkan Calupat sebagai raja bergelar Sang Hyang Jaya Naga.

Source: http://www.infometafisik.com/2013/09/misteri-naga-raksasa-penghuni-gunung.html
Disalin dari WWW.INFOMETAFISIK.COM | konten ini memiliki hak cipta.
Home » kisah » Misteri Naga Raksasa Penghuni Gunung Kerinci Misteri Naga Raksasa Penghuni Gunung Kerinci evolusi metafisik Add Comment kisah Naga penghuni gunung kerinci Infometafisik - Gunung Kerinci menyimpan legenda unik tentang naga raksasa. Di kisahkan pada jaman dahulu di kaki gunung kerinci hiduplah dua saudara kembar, Calupat dan Calungga. Keduanya sudah tidak berayah dan beribu lagi. Dua yatim piatu ini memiliki pusaka buah delima dan batu putih peninggalan orang tuanya. Suatu hari Calungga pergi berburu seorang diri. Dalam perburuanya itu, ia menemukan sebutir telur raksasa. Telur itu kemudian dibawanya pulang sekaligus ingin diperlihatkan kepada sang adik Calupat. Namun, sebelum sampai dirumah, Calungga berubah pikiran. Calungga memutuskan untuk memakan telur itu. Setelah menyantap telur raksasa, Calungga merasa kehausan. Tapi anehnya rasa dahaga Calungga tidak pernah hilang meski dia telah mengeringkan air sungai yang mengalir di kaki Gunung Kerinci. Dalam waktu bersamaan tubuh Calungga lambat laun berubah wujud. Tubuhnya memanjang dan memiliki sisik-sisik emas sebesar nyiru atau tampah. Calungga berubah menjadi seekor naga raksasa dengan batu mustika merah delima di kepalanya. Calungga yang sudah berubah wujud menjadi naga raksasa menjadi sakti. Hanya dengan sekali putaran tubuhnya, lembah di kaki Gunung Kerinci menjadi sebuah danau yang dikenal Danau Bento. Calupat, Sang adik rupanya tidak mampu hidup seorang diri. Ia pun meminta Naga Calungga mengantarkan ke perkampungan penduduk di sebelah timur matahari terbit. Tujuanya agar ia dapat hidup berdampingan dengan penduduk. Dengan hanya sekali tiup, terbentuklah sebuah sungai. Sungai itu dinamakan Muara Angin atau sungai Batang Merangin. Kemudian air sungai tersebut menyusut saat Naga Calungga berjalan ke timur, seperti permintaan adiknya, Calupat. Bekas aliran sungai itu menjadi Danau Kerinci. Sesampainya di perkampungan yang dituju, Calupat duduk di atas kepala Naga Calungga. Maka penduduk menobatkan Calupat sebagai raja bergelar Sang Hyang Jaya Naga.

Source: http://www.infometafisik.com/2013/09/misteri-naga-raksasa-penghuni-gunung.html
Disalin dari WWW.INFOMETAFISIK.COM | konten ini memiliki hak cipta.
Read more ...