Showing posts with label Islam. Show all posts
Showing posts with label Islam. Show all posts

Inilah Akibat Memperlakukan Seorang Ibu Sebagai Pembantu Bagi Dirinya

Seorang anak berlaku kasar kepada ibunya. Dia tidak hanya suka teriak-teriak di wajahnya, akan tetapi suka mencaci dan memakinya. Ibunya yang telah tua, seringkali berdoa kepada Allah ta’ala agar Allah meringankan kekerasan dan kekejaman anaknya. Dia menjadikan ibunya sebagai pembantu yang membantu dan mengurusi segala kebutuhannya, sedangkan ibunya sendiri tidak membutuhkan pengurusan dan bantuannya. Betapa sering air matanya mengalir di kedua pipinya, berdoa kepada Allah ta’ala agar memperbaiki belahan hatinya dan memberikan hidayah kepada hatinya.
Pada suatu hari dia menemui ibunya dengan raut wajah kejahatan yang terlihat dari kedua matanya. Dia berteriak-teriak di wajah ibunya, “Apakah ibu belum menyiapkan makanan juga?” Dengan segera ibunya mempersiapkan dan menghidangkan makanan untuknya. Akan tetapi tatkala dia melihat makanan yang tidak dia suka, maka dia melemparnya ke tanah.
Dia marah dan berucap, “Sungguh, aku kena musibah dengan wanita yang sudah tua renta, aku tidak tahu, kapan aku bisa berlepas diri darinya.” Ibunya menangis seraya berkata, “Wahai anakku, takutlah kamu kepada Allah terhadapku. Tidakkah kamu takut kepada Allah? Tidakkah kamu takut akan murka dan kemarahanNya?” Karena mendengar kata-kata ibunya, maka kemarahannya pun memuncak, dia memegang baju ibunya dan mengangkatnya. Dia mengguncang-guncang ibunya dengan kuat seraya menghardik, “Dengar, aku tidak mau dinasihati. Bukan aku yang mesti dibilang harus bertakwa kepada Allah.”
Lalu dia melempar ibunya. Ibunya jatuh tersungkur. Tangisnya bercampur dengan tawa anaknya yang penuh dengan kepongahan seraya mengatakan, “Ibu pasti akan mendoakan kecelakaan bagiku. Ibu mengira Allah akan mengabulkannya.” Kemudian dia keluar rumah sambil mengolok-olok ibunya. Sementara sang ibu, dia berlinangan air mata kesedihan, menangis siang dan malam tiada henti.
Adapun anaknya, dia lalu menaiki mobilnya. Bergembira dan bersuka cita sambil mendengarkan musik. Dia kencangkan volume tapenya. Dia lupa akan apa yang telah dia perbuat terhadap ibunya yang malang. Dia meninggalkan ibunya dalam keadaan bersedih hati sendirian, hatinya menelan rasa sakit, mengalami kesedihan yang sangat mendalam.
Dia punya acara ke luar kota. Tatkala mobilnya melaju di jalan raya dengan kecepatan membabi buta, tiba-tiba ada seekor unta berada di tengah jalan. Dia terguncang dan kehilangan keseimbangan. Dia mencoba untuk menguasai keadaan, akan tetapi tidak ada jalan keluar dari takdir. Dalam kecelakaan itu, ada potongan besi mobil yang masuk ke dalam perutnya, akan tetapi dia tidak langsung tewas. Allah ta’ala menangguhkan kematiannya. Dia berpindah dari operasi satu ke operasi yang lain, hingga akhirnya terbaring di tempat tidur, tidak bisa bergerak sama sekali. (Aqibah Uquq al-Walidain, hal. 69-71.)
Sumber: “Sungguh Merugi Siapa yang Mendapati Orang Tuanya Masih Hidup Tapi Tidak Meraih Surga”, Ghalib bin Sulaiman bin Su’ud al-Harbi, Pustaka Darul Haq Jakarta.
Read more ...

Kisah Menakjubkan Seorang Ibu

"Seorang ibu bisa mengurus sepuluh orang anak, tapi sepuluh orang anak belum tentu mampu mengurus seorang ibu”.

oleh Ummu Faari’AR
Saudara/i ku seiman..para facebooker yang dirahmati Allah..sungguh tak sekali pun kudengarkan muhadharah ini kecuali saya dalam keadaan berlinang airmata, saya terjemahkan untuk kita semua, moga kecintaan pada Ibu selalu diingatkan oleh Allah dalam hati-hati kita…selama beliau masih bersama kita..
Suatu hari seorang wanita duduk santai bersama suaminya , pernikahan mereka berumur 21 tahun, mereka mulai bercakap dan ia bertanya pada suaminya, ” Tidakkah engkau ingin keluar makan malam bersama seorang wanita?”. Suaminya kaget dan berkata,” Siapa? Saya tak memiliki anak juga saudara”. Wanita itupun kembali berkata,” Bersama seorang wanita yang selama 21 tahun tak pernah kau temani makan malam”. Tahukah kalian siapa wanita itu??
Ibunya…
وَقَضَى رَبُّكَ أَلا تَعْبُدُوا إِلا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلاهُمَا فَلا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلا
كَرِيمًا * وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا
Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”. (Al Isra’: 23-24)
Wanita itu berkata pada suaminya, ”Selama kita bersama tak pernah engkau bersama ibumu walau sejenak saja, hubungilah beliau, ajak makan malam berdua..luangkan waktumu untuknya”, suaminya terlihat bingung, seakan-akan ia lupa pada ibunya.
Maka hari itu juga ia menelpon ibunya, menanyakan kabar dan berkata “ Ibu, gimana menurutmu jika kita habiskan malam ini berdua, kita keluar makan malam. Saya akan menjemput ibu, bersiaplah”. Ibunya heran, ” Anakku, apakah terjadi sesuatu padamu?” jawabnya. ” Tidak ibu”, berulang kali sang ibu bertanya.
“ Ibu, malam ini saya ingin keluar bersamamu”. Mengherankan! Ibunya begitu tak percaya namun sangat bahagia.
“Mungkin kita bisa makan malam bersama, bagaimana menurutmu?”. Ibunya kembali bertanya, ”Saya keluar bersamamu anakku?”
Ibunya seorang janda, ayahnya telah lama wafat, dan anak lelakinya teringat padanya setalah 21 tahun pernikahannya. Hal yang sangat menggembirakannya, begitu lama waktu telah berlalu ia dalam kesendirian, dan datanglah hari ini, anaknya menghubunginya dan mengajaknya bersama. Seolah tak percaya, diapun bersiap jauh sebelum malam tiba. Tentu, dengan perasaan bahagia yang meluap-luap! Ia menanti kedatangan anaknya.
Laki-laki itupun bercerita : “ Setibaku di rumah menjemput ibu, kulihat beliau berdiri di depan pintu rumah menantiku”
Wanita tua…menantinya di depan pintu!
“Dan ketika beliau melihatku, segera ia naik ke mobil. Saya melihat wajahnya yang dipenuhi kebahagiaan, ia tertawa dan memberi salam padaku, memeluk dan menciumku, dan berkata: Anakku, tidak ada seorang pun dari keluargaku..tetanggaku…yang tidak mengetahui kalau saya keluar bersamamu malam ini, saya telah memberitahukan pada mereka semua, dan mereka menunggu ceritaku sepulang nanti”
Lihat bagaimana jika seorang anak mengingat ibunya!
Sebuah syair berbunyi :
Apakah yang harus kulakukan agar mampu membalas kebaikanmu?
Apakah yang harus kuberikan agar mampu membalas keutamaanmu?
Bagaimanakah kumenghitung kebaikan-kebaikanmu ?
Sungguh dia begitu banyak..sangat banyak..dan terlampau banyak!
Dan kami pun berangkat, sepanjang jalan saya pun bercerita dengan ibu, kami mengenang hari-hari yang lalu.
Setiba di restoran, saya baru menyadari bahwa baju yang dikenakan ibu adalah baju terakhir yang Ayah belikan untuknya, setelah 21 tahun saya tak bersamanya tentu pakaian itu terlihat sangat sempit, dan saya pun terus memperhatikan ibuku.
Kami duduk dan datanglah seorang pelayan menanyakan menu makanan yang hendak kami makan, kulihat ibu membaca daftar menu dan sesekali melirik kepadaku, akhirnya kufahami kalau ibuku tak mampu lagi membaca tulisan di kertas itu. Ibuku sudah tua dan matanya tak bisa lagi melihat dengan jelas.
Kubertanya padanya,” Ibu, apakah engkau mau saya bacakan menunya?” Beliau segera mengiyakan dan berkata, “ Saya mengingat sewaktu kau masih kecil dulu, saya yang membacakan daftar menu untukmu, sekarang kau membayar utangmu anakku..kau bacakanlah untukku”
Maka sayapun membacakan untuknya, dan demi Allah..kurasakan kebahagiaan merasuki dadaku..
Beberapa waktu datanglah makanan pesanan kami, saya pun mulai memakannya. Tapi ibuku tak menyentuh makanannya, beliau duduk memandangku dengan tatapan bahagia. Karena rasa gembira beliau merasa tak selera untuk makan.
Dan ketika selesai makan, kami pun pulang, dan sungguh, tak pernah kurasakan kebahagian seperti ini setelah bertahun-tahun. Saya telah melalaikan ibuku 21 tahun lamanya.
Setiba di rumah, kutanyakan padanya : “ Ibu..bagaimana menurutmu kalo kita mencari waktu lain untuk keluar lagi?” beliau menjawab,” Saya siap kapan saja kau memintaku!”
Maka haripun berlalu, Saya sibuk dengan pekerjaan..dengan perdagangan..dan terdengar kabar Ibuku jatuh sakit. Dan beliau selalu menanti malam yang telah kujanjikan. Hari terus berlalu dan sakitnya kian parah. Dan…Ibuku meninggal dan tak ada malam kedua yang kujanjikan padanya.
Setelah beberapa hari, seorang laki-laki menelponku, ternyata dari restoran yang dulu kudatangi bersama ibuku. Dia berkata,” Anda dan istri Anda memiliki kursi dan hidangan makan malam yang telah lunas”
Kami pun ke restoran itu, setiba disana..pelayan itu mengatakan bahwa Ibu telah membayar lunas makanan untuk saya dan istri. Dan menulis sebuah surat berbunyi :
“Anakku, sungguh saya tahu bahwa tak akan hadir bersamamu untuk kedua kalinya. Namun, saya telah berjanji padamu, maka makan malamlah dengan uangku, saya berharap istrimu telah menggantikanku untuk makan malam bersamamu”
Saya menangis membaca surat ibuku…dimana saya selama ini ?? di mana cintaku untuk Ibu?? Selama 21 tahun….
….dikisahkan kembali dari muhadharah syekh Nabil al ‘audhy-hafizhahullahu ta’ala-
Read more ...

Hidayah Menyapa Melalui Seorang Tuna Netra

Tumbuh dan besar dalam keluarga yang demokratis, membuat aku dan adik-adikku terbiasa dalam nilai-nilai penuh kebebasan selama tetap bertanggung jawab dan tidak keluar jalur. Orang tua membebaskan aku dan saudaraku ikut kegiatan apa saja di luar rumah asal jelas dan izin orang tua. Dan pada akhirnya, kepercayaan orang tuaku itu kusalah artikan.
Berawal dari keisengan membeli kupon permainan ketangkasan di sebuah pusat perbelanjaan, akhirnya menjadi hobi yang tak bisa kutinggalkan. Sepulang sekolah aku habiskan waktuku di sana. Bila tidak bermain “judi kecil-kecilan”, aku sibuk dengan game yang juga banyak menyajikan permainan ketangkasan dengan tukar koin.

Aku sudah kecanduan kelas berat. Bahkan sering tanpa kusadari, aku melakukan gerakan-gerakan memencet tombol game atau tiba-tiba berteriak karena merasa kalah atau menang game. Meski menjadi bahan tertawaan, aku tak peduli.
Oleh guru kelas, aku sering ditegur karena tak lagi bisa konsen mengikuti pelajaran. Belum lagi nilaiku yang turun drastis. Tak berhenti sampai di situ, emosiku mulai sering tak terkendali bila dalam sehari tak berada di depan permainan-permainan itu. Pendeknya bagaimana pun caranya aku harus bisa memenuhi hasrat bermainku. Jadilah aku seorang pencuri.
Korban pertamaku adalah iuran SPP tiap bulan. Berturut-turut kemudian dompet ibu dan ayahku. Lama-kelamaan aku mulai berani mencuri di luar.
Tak terhitung entah berapa kali aku mengambil sesuatu yang bukan hakku. Berkali-kali aku tertangkap basah. Namun itu belum cukup membuatku jera. Aku melakukan semua itu seolah tanpa beban. Ayah dan ibu sampai angkat tangan dan kehilangan akal mengatasiku.
Imbas lain dari kenakalanku itu, bolak-balik aku harus pindah sekolah yang biasanya hanya bertahan dalam hitungan bulan. Sampai pada akhirnya aku drop out sebelum bisa menyelesaikan kelas dua. Ibu dan ayah sangat marah dan kecewa. Sebab segala nasihatnya tak pernah satupun kuindahkan. Hanya sekedar lewat. Masuk telinga kiri, keluar telinga kanan.
Bukannya berubah, sejak “DO” dari sekolah, justru kenakalanku bertambah. Aku mulai terjebak dalam minuman keras dan kehidupan malam di bar-bar. Berangkat menjelang sore, menjelang pagi baru tiba di rumah. Sepanjang siang bila tak di ajak keluar teman, kuhabiskan waktu untuk tidur. Shalat? Aku tak sempat lagi memikirkannya. Di otakku yang ada hanya kenikmatan-kenikmatan dunia. Tak sedikitpun aku berpikir tentang mati atau masa depan. Jadilah aku manusia yang hidup tanpa tujuan sama sekali.
Hingga suatu hari, di rumah aku kedatangan saudara sepupu. Yang kudengar ia akan tinggal bersama kami dalam waktu yang cukup lama untuk sekolah. Ia seorang tuna netra sejak usia menjelang tujuh tahun. Berawal dari sakit panas yang membawanya dalam kebutaan permanen.
Semula aku tak peduli padanya. Bahkan aku sempat berpikir kehadirannya akan membuat repot seisi rumah, termasuk aku. Apa-apa harus dibantu, jalan mesti dituntun. Pendeknya dalam otakku yang ada adalah prasangka buruk tentangnya dan segudang kerepotan yang akan muncul dengan kedatangannya di rumah. Membayangkan saja sudah repot, bagaimana kalau sudah benar-benar datang?
Ternyata dugaanku benar. Hari pertama ia tiba ia sudah banyak bertanya tentang seluk beluk denah rumah. Di mana tempat MCK, di mana letak ini itu. Sangat menyebalkan menurutku. Kadang aku tak dapat menahan tawa, di awal pekan kehadirannya ia sering menabrak sana-sini, hingga membuatku berteriak-teriak mengingatkannya. Benar-benar bikin repot.
Pekan berikutnya ia sudah hafal tempat-tempat di rumah. Tiap hari kerjanya menyapu, bersih-bersih rumah bahkan ia menyikat kamar mandi juga menyetrika! Aku diam-diam terkagum-kagum. Meski seusia dengannya, belum pernah aku yang normal begini mengerjakan semua tugas itu. Semua beres di tangan ibu.
Belum lagi ia rajin shalat dan mengaji dengan Al Quran Braille. Suaranya merdu dan tak jarang sesekali suaranya tersendat seperti menahan tangis saat membaca Al Quran. Sering aku diam-diam berada di belakangnya, memerhatikan ia meraba-raba titik-titik yang bertonjolan di buku Al Qurannya. Sumpah, dia bisa membuatku bangun pagi atau tak membuatku pergi serta rela tak tidur siang hanya untuk bisa memerhatikan dan mengamatinya.
Jika ia yang tak sempurna saja begitu rajin dan semangat belajar juga beribadah, kenapa aku yang sehat justru sibuk maksiat. Entah, ada kekuatan dari mana, meski malu-malu kucing pada awalnya, aku sering diam-diam menjadi makmum di sampingnya. Biasanya ia akan tersenyum dan menepuk punggungku seraya berucap syukur. Lama-kelamaan aku merasa dekat dengannya. Sedikit demi sedikit aku mulai berubah, meski aku harus mati-matian menahan keinginan lamaku. Alhamdulillah, pada akhirnya aku bisa berhenti dan lepas dari semua itu. Kutinggalkan masa laluku tanpa keraguan sedikitpun.(***)
Jazakallah khair untuk Mas Widi, syukran untuk semuanya.
Read more ...

Kisah Nyata Tentang Bahaya Ghibah – Menggunjing

Tetanggaku satu ini, memang terbiasa lidahnya. Ada saja pembicaraan yang lantas jadi gosip-gosip murahan keluar dan lisannya. Ibarat radar, sinyalnya besar, ibarat wartawan ia jeli memilih berita, hingga oplah penjualan berita dari bibir ke bibir selalu bikin heboh warga sekitar.
Sebagai tetangga, kami semua sudah sering menegurnya meski dengan bergurau.
Nggak capai Bu, ngejar berita melulu? Wartawan saja pake libur, habis ngeliput.Njenengan (kamu) kok nggak ada capainya”.
Lho ngomongin orang itu enak, Mbak. Lagian yang diomongin fakta bla..bla..bla”.
Selalu saja ada alasannya dan biasanya ia tertawa ngakak bila ditegur. Sebenarnya Bu Nik -panggil saja begitu- orangnya baik, ringan tangan menolong tetangga atau siapa saja yang membutuhkan tanpa diminta. Ia juga supel dan ramah, hanya saja, lisannya itu membuat orang geleng kepala dan mengelus dada.
Sebenarnya banyak orang yang ingin marah atau tak suka dengan kebiasannya itu tapi tak ada yang bertindak.
Lebih-lebih akhir-akhir ini, pembicaraannya mulai menyulut kemarahan beberapa orang. Hal itu disebabkan mereka merasa dirugikan dengan pembicaraan yang disebar Bu Nik ke orang-orang. Di depan si A Bu Nik bilang kalau Bu B mengatakan begini begitu soal A, di depan bu B Bu Nik menyatakan hal sehaliknya, sama-sama sama termakan omongan Bu Nik keduarnya bertengkar hebat. Bahkan sampai adu fisik saat pertemuan RT. Aku dan beberapa ibu-ibu yang hendak melerai malah kena pukulan nyasar. Pipiku lebam, mataku bengkak dan merah. Pertemuan RT pun bubar dengan ruangan yang berantakan.
Saat di bawa ke Rumah RT, Bu Nik adem ayem saja seolah tanpa dosa. Akhirnya, alhamdulillah, masalah selesai. Bu A dan Bu B akur lagi, tapi hubungan mereka dengan Bu Nik jadi berjarak. Bu Nik juga dinasihati Pak RT.
Beberapa bulan kemudian aku yang jadi korbannya. Tak tanggung-tanggung, aku dituduhnya orang yang tidak amanah menggelapkan uang warga. Naudzubillah. Sepeser pun aku tidak rnengambilnya. Asal mulanya, ia hendak meminjam uang tabungan warga untuk suatu keperluan. Kala itu aku mengatakan padanya kas tabungan kosong, hanya tinggal ± 50 ribu. Karena sudah dipinjam beberapa warga lain. Hal itu ada bukti catatannya. Tapi dasar lidahnya “gatal”, ia menyebarkan ke orang-orang bahwa uang tabungan “kumakan” sendiri. Pantas saja, aku beberapa kali mendengar kasak-kusuk tak enak soal aku dan tabungan warga. Bahkan ada beberapa warga yang tidak mengecek kebenarannya langsung bicara menyakitkan padaku. Bahkan kerudungku juga dibawa-bawa!!!
Hatiku sakit, juga malu sendiri. Aku mencari tahu sumber berita itu, setelah izin RT, karena itu menyangkut nama baikku juga keluargaku. Ternyata sulit mencari keadilan dan kebenaran. Selama masalah itu bergulir, aku pasrahkan tugas bendahara pada bu RT, lengkap dengan catatannya. Pembicaraan di luar kian menyudutkan dan membuat aku terpuruk. Hingga aku jatuh sakit. Alhamdulillah, suami menguatkanku.
“Sudah biarkan saja Mi, kalau kaya gini terus Ummi sendiri yang rugi. Hasbunallah wa ni’mal wakil, Mi… Allah nggaktidur”.
Benar saja, hingga suatu Maghrib, seorang warga yang tempo hari sempat bicara kasar padaku, datang ke rumah meminta maaf. Katanya ia mendapat berita itu dari Bu Nik dan Ia percaya begitu saja. Terus saat rapat RT, kebetulan aku tak datang karena sakit, Bu RT meluruskan berita miring soal aku, lengkap dengan data-data catatan tabungan di depan forum rapat. Walhamdulillah. Beban berat hati seolah dihimpit batu berton-ton, lepas sudah. Esoknya aku menerima beberapa kunjungan ibu-ibu yang tempo hari termakan isu itu. Dan dari mereka, aku tahu sumber berita itu adalah Bu Nik, mereka meminta maaf.
Saat melihat Bu Nik datang ke rumah meminta maaf, hari berikutnya, ingin rasanya aku marah. Tapi melihatnya menangis aku tak tega, ia bilang dimarahi suaminya soal itu. Aku menasihatinya, berharap ia berubah.
Janji tinggal janji. Bu Nik berulah lagi. Kali ini dengan tetangga belakang. Tanpa ba-bi-bu, tetangga belakang melabraknya ke rumah di siang hari bolong. Hampir saja terlambat, tongkat sudah diayun, kaca rumah Bu Nik pecah berantakan. Aku dan suami, yang qadarullah tinggal di depan rumah Bu Nik, langsung menghambur keluar.
“Sabar, Bu!!! Sabar!! Istighfar!! Nggak pantas kaya gini!! Tolong, bicara baik-baik!”
Aku dan suami memberanikan diri melerai, meski jujur takut kena pukul seperti dulu. Alhamdulillah, tetangga lain mulai berdatangan membantu, meredakan suasana. Bu Nik menangis dibelakang pintu, ketakutan. Suaminya ditelpon pak RT agar izin dulu untuk pulang. Suaminya terkejut mendapati rumah berantakan dan penuh orang.
“Ada apa lagi sih, Ma?! Bikin gara-gara apa lagi Kamu? Nggak ada kapok-kapoknya bikinmalu. Kalau kamu nggak juga berubah, kamu hidup sendiri saja. Malu aku punya istri tak bisa dididik baik-baik!!kasihan anakmu, kasihan gua mi, keluarga kita, kasihan orang lain. Bikin susah semua orang”
Hampir ia ditampar suaminya, tapi berhasil ditahan keluarga. Kami sebenarnya kasihan melihat, tapi ia memang pantas menerimanya, agar menjadi pelajaran. Ada saran beberapa warga yang sakit hati untuk membawanya ke kantor polisi, biar kapok dan tak mengganggu lagi. Bahkan suaminya pasrah. Bu Nik histeris meminta ampun. Pak RW dan Pak RT menengahi.
Akhirnya, ia diminta membuat surat pernyataan bermaterai agar tidak mengulangi perbuatannya lagi, bila masih ingin tinggal di RT kami. Alhamdulillah, Bu Nik menepati janjinya. Ia juga jarang keluar rumah, tak seperti dulu, tak tahu waktu. Ia juga memintaku mengajarinya membaca Iqra’. Sebuah awal perubahan yang menggembirakan.
Umm…, aku mau berubah, benar-benar tobat. Aku sudah menyusahkan banyak orang selama ini. ”Aku memeluknya bahagia. Kini, tak ada lagi biang gosip dan masalah di RT kami. Hubungan antar tetangga terjalin baik dan saling menghargai. (***)
Sebagairnana kisah Mbak N di P kepada Ummu Zubair“Salam hangat untuk tetangga-tetangga baikku di Cemara. Mohon maaf untuk sernua salah dan khilaf”

*** Dari majalah NIKAH SAKINAH vol 9 no 12
Read more ...

Do’a Mama

Panggung adalah tempat aku mengekspresikan seluruh jiwa seni yang kupunya. Dari berlenggak-lenggok dalam peragaan busana hingga beraksi dalam merdunya suara. Ya, aku memang bergelut dalam dunia fashion juga anak band. Panggung ibarat rumah kedua buatku. Kilatan kamera adalah hidupku.
Uang, materi… jangan ditanya. Aku sudah bisa meraupnya sejak usia belia, aku bisa memenuhi kebutuhanku sendiri juga membantu ekonomi keluarga. Sayang, seiring bertambahnya waktu dan usiaku, semua berubah. Bukan perubahan baik, namun inilah awal dari kehancuranku.
Usia remaja membawaku pada pencarian jati diri, begitu orang bilang. Aku yang semula anak mama, kini merasa terkekang dengan kehadiran mama. Ya, mama yang membuat seluruh jadwal kegiatanku. Katanya sih, agar aku punya waktu istirahat, bisa ngaji, mengerjakan tugas sekolah ataupun show, hingga tak bertabrakan waktunya. Mulanya aku memahami maksud baik mama, tapi kini semua penilaianku berubah. Aku merasa mama mengatur hidupku.
Aku mulai menjadi pemberontak dan pembangkang. Bila mama mengingatkan aku harus mengaji, shalat, mengerjakan PR atau jadwal kegiatanku, aku akan marah pada mama. Aku akan pergi dari rumah tanpa pamit, menghabiskan waktu bersama teman-teman dan baru pulang larut malam.
Kontan saja mama yang khawatir menjadi sangat marah, lebih-lebih karena aku perempuan. Mama sampai menangis karena panik dan khawatir. Bayangkan, pukul satu dini hari aku baru tiba di rumah. Itu pengalaman pertamaku pulang malam.
Shalat dan mengaji mulai aku lalaikan. Tugas sekolahpun banyak yang terbengkalai. Padahal ujian kenaikan kelas hampir tiba. Aku tak peduli. Hari-hariku sibuk di luar rumah. Di luar kegiatan show, aku lebih banyak nongkrong bersama teman-teman. Aku makin susah diatur. Pertengkaran demi pertengkaran mewarnai hubunganku dengan mama.
Aku makin tak menghargai mama sebagai orang tua tunggalku, semenjak papa meninggal. Aku tak pernah peduli apa kata mama dan segudang nasihat baiknya. Dari hari ke hari, aku kian tak terkendali. Bahkan suatu hari, aku pernah mengumpat mama dan menganggapnya parasit dalam hidupku. Gara-garanya sepele, mama mengingatkan aku untuk tidak berhubungan dengan seorang pria.
Aku yang tengah mabuk cinta menjadi gelap mata. Aku mengumpat mama dan menuduhnya ingin menikmati hasil jerih payahku. Mama tak berkata apa-apa saat itu. Ia hanya menangis diiringi pandangan iba dua orang adikku. Adik bungsuku bahkan mengatakan aku anak durhaka dan mendoakan buruk diriku. Kukemasi baju-bajuku, dengan hati meradang. Satu tujuanku, menginap di rumah teman dan bersenang-senang. Mama sempat menahanku, tapi kuhempas tangannya dengan keras.
Astaghfirullah… Mama nggak punya maksud apa-apa Ri. Mama hanya ingin menjagamu…!”
Memang dibanding dua adik perempuanku, aku berbeda. Dari sejak SD, adik-adikku telah rapi menutup aurat. Sementara aku justru sebaliknya. Aku selalu membayangkan diriku menjadi seorang bintang panggung. Dari semula mama kurang setuju, tapi ia tak bisa menahan keinginanku.
Begitulah, hari itu aku pergi bersama teman-teman, berbaur dengan teman-teman pria dalam satu mobil. Kami menghabiskan hari itu hingga larut malam. Satu per satu teman-temanku diantar pulang. Tinggal aku dan tiga orang teman priaku. Mobil melaju tenang membelah jalan. Dari kaca spion, kulihat mereka berbisik. Aku tiba-tiba merasa gelisah. Hatiku kian tak tenang, saat mobil berbelok di jalan yang tak biasa kulalui, jalan alternatif keluar kota dan sepi…
Di perkebunan yang sepi, mobil mendadak berhenti. Jantungku berdegup kencang. Tiga teman priaku itu berniat buruk padaku. Alhamdulillah, otakku berpikir cepat. Sesaat sebelum mereka melakukan niat jahatnya, aku secepat mungkin membuka pintu. Tanganku sempat ditarik keras oleh sopir, hingga terasa sangat ngilu dan sakit. Yang ada dalam benakku aku harus bisa lepas apapun yang terjadi, hidup atau mati.
Begitu paniknya aku, ketika mereka mengejarku. Hatiku tak henti menyebut asma Allah. Aku berlari sambil menangis ketakutan. Bayangan mama berkelebat. Sungguh aku merasa menyesal mengabaikan nasihat mama. Di tengah ketakutan, kepanikan, lelah yang sangat juga kepasrahan atau lebih tepatnya putus asa, aku berpikir inilah akhir hidupku. Bayangkan, tempat itu gelap dan sepi sejauh mata memandang, tak ada tempat sembunyi dan berlindung. Kusebut asma Allah dan mama sepanjang tangis pelarianku. Sementara kakiku sudah begitu lelah, tubuhku bergetar karena takut yang sangat.
Alhamdulillah, dari jauh kulihat ada kerlip beberapa lampu yang kian mendekat. Dua buah mobil rupanya. Aku melambaikan tangan. Semula mobil itu hanya melewatiku namun kemudian kembali mundur. Aku menangis menghiba minta diizinkan naik. Alhamdulillah, aku merasa aman, mereka rombongan orang usai hajatan.
Di mobil pikiranku kacau. Kuhubungi mama untuk menjemputku di sebuah rumah sakit. Saat bertemu mama tangisku pecah, aku minta maaf padanya atas semua sikapku. Aku percaya doa mamalah yang menjagaku atas izin-Nya. Semenjak peristiwa itu, aku berubah. Peristiwa masa SMU-ku belasan tahun silam masih saja kukenang, kujadikan pelajaran berharga dalam hidupku. (***)
Jazakillah khair untuk mama
Read more ...

Kisah Nyata : “AIR INI HANYA UNTUK INSINYUR!!”

Bismillahir-Rahmaanir-Rahim . Di sebuah perusahaan pertambangan minyak di Arab Saudi, di akhir tahun40-an.
Seorang pegawai rendahan, remaja lokal asli Saudi, kehausan dan bergegas mencari air untuk menyiram tenggorokannya kering. Ia begitu gembira ketika melihat air dingin yang tampak didepannya dan bersegera mengisi air dingin ke dalam gelas.
Belum sempat ia minum, tangannya terhenti oleh sebuah hardikan: “Hei, kamu tidak boleh minum air ini. Kamu cuma pekerja rendahan. Air ini hanya khusus untuk insinyur” Suara itu berasal dari mulut seorang insinyur Amerika yang bekerja di perusahaan tersebut.
Remaja itu akhirnya hanya terdiam menahan haus. Ia tahu ia hanya anak miskin lulusan sekolah dasar. Kalaupun ada pendidikan yang dibanggakan, ia lulusan lembaga Tahfidz Quran, tapi keahlian itu tidak ada harganya di perusahaan minyak yang saat itu masih dikendalikan oleh manajeman Amerika.
Hardikan itu selalu terngiang di kepalanya. Ia lalu bertanya-tanya: Kenapa ini terjadi padaku? Kenapa segelas air saja dilarang untuk ku? Apakah karena aku pekerja rendahan,sedangkan mereka insinyur ? Apakah kalau aku jadi insinyur aku bisa minum? Apakah aku bisa jadi insinyur seperti mereka?
Pertanyaan ini selalu tengiang-ngiang dalam dirinya. Kejadian ini akhirnya menjadi momentum baginya untuk membangkitkan “SIKAP POSITIF” . Muncul komitmen dalam dirinya. Remaja miskin itu lalu bekerja keras siang hari dan melanjutkan sekolah malam hari. Hampir setiap hari ia kurang tidur untuk mengejar ketertinggalannya.
Tidak jarang olok-olok dari teman pun diterimanya. Buah kerja kerasnya menggapai hasil. Ia akhirnya bisa lulus SMA. Kerja kerasnya membuat perusahaan memberi kesempatan padanya untuk mendalami ilmu. Ia dikirim ke Amerika mengambil kuliah S1 bidang teknik dan master bidang geologi. Pemuda ini lulus dengan hasil memuaskan. Selanjutnya ia pulang kenegerinya dan bekerja sebagai insinyur.
Kini ia sudah menaklukkan ”rasa sakit”nya, kembali sebagai insinyur dan bisa minum air yang dulu dilarang baginya. Apakah sampai di situ saja. Tidak, karirnya melesat terus. Ia sudah terlatih bekerja keras dan mengejar ketinggalan, dalam pekerjaan pun karirnya menyusul yang lain. Karirnya melonjak dari kepala bagian, kepala cabang, manajer umum sampai akhirnya ia menjabat sebagai wakil direktur, sebuah jabatan tertinggi yang bisa dicapai oleh orang lokal saat itu.
Ada kejadian menarik ketika ia menjabat wakil direktur. Insinyur Amerika yang dulu pernah mengusirnya, kini justru jadi bawahannya. Suatu hari insinyur tersebut datang menghadap karena ingin minta izin libur dan berkata; “Aku ingin mengajukan izin liburan. Aku berharap Anda tidak mengaitkan kejadian air di masa lalu dengan pekerjaan resmi ini. Aku berharap Anda tidak membalas dendam, atas kekasaran dan keburukan perilakuku di masa lalu”
Apa jawab sang wakil direktur mantan pekerja rendahan ini: “Aku ingin berterimakasih padamu dari lubuk hatiku paling dalam karena kau melarang aku minum saat itu. Ya dulu aku benci padamu. Tapi, setelah izin Allah, kamu lah sebab kesuksesanku hingga aku meraih sukses ini.
Kini sikap positfnya sudah membuahkan hasil, lalu apakah ceritanya sampaidi sini?
Tidak. Akhirnya mantan pegawai rendahan ini menempati jabatan tertinggi di perusahaan tersebut. Ia menjadi Presiden Direktur pertama yang berasal dari bangsa Arab.
Tahukan Anda apa perusahaan yang dipimpinnya? Perusahaan itu adalah Aramco (Arabian American Oil Company)perusahaan minyak terbesar di dunia. Ditangannya perusahaan ini semakin membesar dan kepemilikan Arab Saudi semakin dominan. Kini perusahaaan ini menghasilakn 3.4 juta barrels (540,000,000 m3) dan mengendalikan lebih dari 100 ladang migas di Saudi Arabia dengan total cadangan 264 miliar barrels (4.20×1010 m3) minyak dan 253 triliun cadangan gas.
Atas prestasinya Ia ditunjuk Raja Arab Saudi untuk menjabat sebagai Menteri Perminyakan dan Mineral yang mempunyai pengaruh sangat besar terhadap dunia.
Ini adalah kisah Ali bin Ibrahim Al-Naimi yang sejak tahun 1995 sampai saat ini menjabat Menteri Perminyakan dan Mineral Arab Saudi.
Terbayangkah, hanya dengan mengembangkan hinaan menjadi hal yang positif, isu air segelas di masa lalu membentuknya menjadi salah seorang penguasa minyak yang paling berpengaruh di seluruh dunia.
 Itulah kekuatan”SIKAP POSITIF”
 Kita tidak bisa mengatur bagaimana orang lain berperilaku terhadap kita …
 Kita tidak pernah tahu bagaimana keadaan akan menimpa kita ….
 Tapi kita sepenuhnya punya kendali bagaimana menyikapinya …Apakah ingin hancur karenanya? Atau bangkit dengan semangat “Bersikap Positif” dan menjadi bagian dari solusi …
 
 Semoga bermanfaat dan Dapat Diambil Hikmah-Nya ….
Read more ...

Mantan Pendeta Roma Menjadi Ahlus Sunnah

Oleh : Syaikh Amjad bin Imron Salhub
Segala puji bagi Allah. Semoga shalawat serta salam tetap terlimpahkan atas Rasulullah, keluarga dan para sahabatnya, serta siapa saja yang mengikuti sunnahnya dan menjadikan ajarannya sebagai petunjuk sampai hari kiamat.
Sejarah Islam, baik yang dulu maupun sekarang senantiasa menceritakan kepada kita, contoh-contoh indah dari orang-orang yang mendapatkan petunjuk, mereka memiliki semangat yang begitu tinggi dalam mencari agama yang benar. Untuk itulah, mereka mencurahkan segenap jiwa dan mengorbankan milik mereka yang berharga, sehingga mereka dijadikan permisalan, dan sebagai bukti bagi Allah atas makhluk-Nya.
Sesungguhnya siapa saja yang bersegera mencari kebenaran, berlandaskan keikhlasan karena Allah Ta’aala, pasti Dia ‘Azza Wa Jalla akan menunjukinya kepada kebenaran tersebut, dan akan dianugerahkan kepadanya nikmat terbesar di alam nyata ini, yaitu kenikmatan Islam. Semoga Allah merahmati syaikh kami al-Albani yang sering mengulang-ngulangi perkataan:
الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى نِعْمَةِ اْلإِسْلاَمِ وَالسُنَّةِ
Segala puji bagi Allah atas nikmat Islam dan as-Sunnah
Diantara kalimat mutiara ulama salaf adalah:
إِنَّ مِنْ نِعْمَةِ اللهِ عَلَى اْلأَعْجَمِيِّ وَ الشَابِ إِذَا نَسَكَ أَنْ يُوَافِيَ صَاحِبَ سُنَّةٍ فَيَحْمِلَهُ عَلَيْهَا
Sesungguhnya diantara nikmat Allah atas orang ‘ajam dan pemuda adalah, ketika dia beribadah bertemu dengan pengibar sunnah, kemudian dia membimbingnya kepada sunnah Rasulullah.
أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ
Saya bersaksi bahwa tiada sesembahan yang berhak disembah dengan benar kecuali Allah, dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan-Nya
Inilah kalimat tauhid, kalimat yang baik, kunci surga. Kalimat inilah stasiun pertama dari jalan panjang yang penuh dengan onak dan duri, kalimat taqwa bukanlah kalimat yang mudah bagi seorang insan yang ingin menggerakkan lisannya untuk mengucapkannya, demikian juga ketika dia ingin mengeluarkannya dari hatinya yang paling dalam. Karena, ketika seorang insan ingin mengeluarkannya dari hatinya yang paling dalam, maka dia harus mengetahui terlebih dahulu, bahwa kalimat itu keluar dengan seizin Allah Ta’aala.
Demikianlah yang dialami oleh Ibrahim (dulu bernama Danial) -semoga Allah memeliharanya, meluruskannya diatas jalan keistiqomahan, serta menutup lembaran hidupnya diatas Islam-.
Inilah dia yang akan menceritakan kepada kita, bagaimana dia meninggalkan agama kaumnya (Nashrani) menuju Islam, dan bagaimana dia telah mengorbankan kekayaan ayahnya serta kemewahan hidupnya, di suatu jalan (hakekat terbesar), demi mencari kebebasan akal dan jiwa.
Ibrahim (dulu bernama Danial) -semoga Allah memeliharanya, dan mengokohkannya diatas jalan keistiqomahan- menceritakan:
Saya adalah seorang lelaki dari keluarga Roma, seorang anak dari keluarga kaya, semasa kecil, saya hidup dengan kemewahan dan kemakmuran. Demikianlah, kulalui masa kecilku. Ketika masa remajapun, saya banyak menghabiskan waktu dengan kemewahan bersama teman-temanku, ketika itu saya memiliki sebuah mobil mewah dan uang, sehingga saya bisa memiliki segala sesuatu dan tidak pernah kekurangan.
Akan tetapi sejak kecil, saya senantiasa merasa bahwa dalam kehidupan ini ada yang kurang, dan saya yakin bahwa ada sesuatu yang salah di dalam hidupku, serta suatu kekosongan yang harus kupenuhi, karena semua sarana kehidupan ini bukanlah tujuanku. Saya mulai tertarik dengan agama, dan mulailah kubaca Injil, pergi ke gereja, serta kusibukkan diriku dengan membaca buku-buku agama Kristen. Dari buku-buku yang kubaca tersebut, mulai kudapatkan sebagian jawaban atas berbagai pertanyaanku, akan tetapi tetap saja belum sempurna.
Dahulu saya bangun pagi setiap hari dan pergi ke pantai, saya merenungi laut sambil membaca buku-buku dan shalat. Setelah dua bulan dari permulaan hidupku ini, saya merasa mantap bahwa saya tidak mampu terus menerus menjalani hidupku seperti biasanya setelah beragama, ketika itu, saya mendatangi ayahku dan kukabarkan kepadanya bahwa saya tidak bisa melanjutkan bekerja dengannya, saya juga pergi mendatangi ibu dan saudari-saudariku dan kukabarkan kepada mereka bahwa saya telah mengambil keputusan untuk meninggalkan mereka.
Kemudian kusiapkan tasku lalu naik kereta tanpa kuketahui ke mana saya hendak pergi, hingga saya tiba di kota Polon, kemudian saya masuk ke ad-dir (Istilah untuk gereja yang terpencil dipedalaman. – pent.) disana, lalu naik gunung yang tinggi. Saya menetap di gunung selama kira-kira sebulan, saya tidak berbicara dengan siapapun, saya hanya membaca dan beribadah.
Sekitar tiga tahun, saya senantiasa berpindah-pindah dari satu ad-dir ke ad-dir yang lain, saya membaca dan beribadah, kebalikannya para pendeta yang tidak bisa meninggalkan ad-dir mereka, karena saya tidak pernah memberikan janji untuk menjadi seorang pendeta di suatu ad-dir tertentu, dan janji tersebut akan menghalangiku untuk keluar masuk darinya.
Setelah itu, saya memutuskan untuk berkeliling ke pelbagai negeri, maka saya memulai perjalanan panjangku dari Italia melalui Slovania, Hungaria, Nimsa, Romania, Bulgaria, Turki, Iran, Pakistan, dari sana menuju India. Semua perjalanan ini saya tempuh melalui jalur darat. Saya mendengar suara adzan di Turki, dan saya sudah pernah mendengarnya di Kairo (Mesir) pada perjalananku sebelumnya, akan tetapi kali ini sangat berkesan, sehingga saya mencintainya.
Dalam perjalanan pulang, saya bertemu dengan seorang muslim Syi’ah di perbatasan Iran dan Pakistan, dia dan temannya menjamuku dan mulai menjelaskan kepadaku tentang Islam versi Syi’ah, keduanya menyebutkan Imam Duabelas dan mereka tidak menjelaskan kepadaku tentang Islam dengan sebenarnya, bahkan mereka menfokuskan pada ajaran Syi’ah dan Imam Ali z, serta tentang penantian mereka terhadap seorang Imam yang ikhlas, yang akan datang untuk membebaskan manusia.
Semua diskusi tesebut sama sekali tidak menarik perhatianku, dan saya belum mendapatkan jawaban atas berbagai pertanyaanku dalam rangka mencari hakekat kebenaran. Orang Syi’ah itu menawarkan kepadaku untuk mempelajari Islam di kota Qum, Iran, selama tiga bulan tanpa dipungut biaya, akan tetapi saya memilih untuk melanjutkan perjalananku dan kutinggalkan mereka.
Kemudian saya menuju India, dan ketika saya turun dari kereta, pertama yang kulihat adalah manusia yang membawa kendi-kendi di pagi hari sekali dengan berlari-lari kecil menuju ke dalam kota, maka kuikuti mereka dan saya melihat mereka berthowaf mengelilingi sapi betina yang terbuat dari emas, ketika itu saya sadar bahwa India bukanlah tempat yang kucari.
Setelah itu, saya kembali ke Italia dan dirawat di rumah sakit selama sebulan penuh, hampir saja saya meninggal dikarenakan penyakit yang saya derita ketika di India, akan tetapi Allah telah menyelamatkanku. Alhamdulillah.
Saya keluar dari rumah sakit menuju rumah, dan mulailah saya berfikir tentang langkah-langkah yang akan saya ambil setelah perjalanan panjang ini, maka saya memutuskan untuk terus dalam jalanku mencari hakekat kebenaran. Saya kembali ke ad-dir dan mulailah kujalani kehidupan seorang pendeta di sebuah ad-dir di Roma. Pada waktu itu saya telah diminta oleh para pembesar pendeta disana untuk memberikan kalimat dan janji. Pada malam itu, saya berfikir panjang, dan keesokan harinya saya memutuskan untuk tidak memberikan janji kepada mereka lalu kutinggalkan ad-dir tersebut.
Saya merasa ada sesuatu yang mendorongku untuk keluar dari ad-dir, setelah itu saya menuju al-Quds karena saya beriman akan kesuciannya. Maka mulailah saya berpergian menuju al-Quds melalui jalur darat melewati berbagai negeri, sampai akhirnya saya tiba di Siria, Lebanon, Oman, dan al-Quds, saya tinggal disana seminggu, kemudian saya kembali ke Italia, maka bertambahlah pertanyaan-pertanyaanku, saya kembali ke rumah lalu kubuka Injil.
Pada kesempatan ini, saya merasa berkewajiban untuk membaca Injil dari permulaannya, maka saya memulai dari Taurat, menelusuri kisah-kisah para nabi bani Israel. Pada tahap ini mulai nampak jelas di dalam diriku makna-makna kerasulan hakiki yang Allah mengutus kepadanya, mulailah saya merasakannya, sehingga muncullah berbagai pertanyaan yang belum saya dapatkan jawabannya, saya berusaha menemukan jawaban atas berbagai pertanyaan tersebut dari perpustakaanku yang penuh dengan buku-buku tentang Injil dan Taurat.
Pada saat itu, saya teringat suara adzan yang pernah kudengar ketika berkeliling ke berbagai negeri serta pengetahuanku bahwa kaum muslimin beriman terhadap Tuhan yang satu, tiada sesembahan yang berhak disembah selain Dia. Dan inilah yang dulu saya yakini, maka saya berkomitmen : Saya harus berkenalan dengan Islam, kemudian mulailah kukumpulkan buku-buku tentang Islam, diantara yang saya miliki adalah terjemahan al-Qur’an dalam bahasa Italia, yang pernah saya beli ketika berkeliling ke berbagai negeri.
Setelah kutelaah buku-buku tersebut, saya berkesimpulan bahwa Islam tidak seperti yang dipahami oleh mayoritas orang-orang barat, yaitu sebagai agama pembunuh, perampok dan teroris akan tetapi yang saya dapati adalah Islam itu agama kasih sayang dan petunjuk, serta sangat dekat dengan makna hakiki dari Taurat dan Injil.
Kemudian saya putuskan untuk kembali ke al-Quds, karena saya yakin bahwa al-Quds adalah tempat turunnya kerasulan terdahulu, akan tetapi kali ini saya menaiki pesawat terbang dari Italia menuju al-Quds. Saya turun di tempat turunnya para pendeta dan peziarah dibawah panduan hause bus Armenia di daerah negeri kuno. Di dalam tasku, saya tidak membawa sesuatu kecuali sedikit pakaian, terjemahan al-Qur’an, Injil dan Taurat. Kemudian saya mulai membaca lebih banyak lagi dan lebih banyak lagi, saya membandingkan kandungan al-Qur’an dengan isi Taurat dan Injil, sehingga saya berkesimpulan bahwa kandungan al-Qur’an sangat dekat dengan ajaran Musa dan Isa ‘alaihimassalaam yang asli.
Selanjutnya saya mulai berdialog dengan kaum muslimin untuk menanyakan kepada mereka tentang Islam, sampai akhirnya saya bertemu dengan sahabatku yang mulia Wasiim Hujair, kami berbincang-bincang tentang Islam. Saya juga banyak bertemu dengan teman-teman, mereka menjelaskan kepada saya tentang Islam. Setelah itu, saudara Wasiim mengatakan kepadaku bahwa dia akan mengadakan suatu pertemuan antara saya dengan salah seorang dari teman-temannya para da’i.
Pertemuan itu berlangsung dengan saudara yang mulia Amjad Salhub, kemudian terjadilah perbincangan yang bagus tentang agama Islam. Diantara perkara yang paling mempengaruhiku adalah kisah sabahat yang mulia, Salman al-Farisi z, karena di dalamnya ada kemiripan dengan ceritaku tentang pencarian hakekat kebenaran.
Kami berkumpul lagi dalam pertemuan yang lain dengan saudara Amjad beserta teman-temannya, diantaranya fadhilatusy Syaikh Hisyam al-‘Arif –hafidhohulloh-, maka berlangsunglah dialog tentang Islam dan keagungannya, kebetulan ketika itu saya memiliki beberapa pertanyaan yang kemudian dijawab oleh Syaikh.
Setelah itu, saya terus menerus berkomunikasi dengan saudara Amjad yang dengan sabar menjelaskan jawaban atas mayoritas pertanyaan-pertanyaanku. Pada saat seperti itu di depan saya ada dua pilihan, antara saya mengikuti kebenaran atau menolaknya, dan saya sama sekali tidak sanggup menolak kebenaran tersebut setelah saya meyakini bahwa Islam adalah jalan yang benar.
Pada saat itu juga, saya merasakan bahwa waktu untuk mengucapkan kalimat tauhid dan syahadat telah tiba. Ternyata tiba-tiba saudara Amjad mendatangiku bertepatan dengan waktu dikumandangkannya adzan untuk shalat dhuhur. Waktu itu benar-benar telah tiba, sehingga tiada pilihan bagiku kecuali saya mengucapkan :
أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ
Saya bersaksi bahwa tiada sesembahan yang berhak disembah dengan benar kecuali Allah, dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan-Nya
Maka serta merta saudara Amjad memelukku dengan pelukan yang ramah, seraya memberikan ucapan selamat atas keIslamanku, kemudian kami sujud syukur sebagai ungkapan terima kasih kepada Allah atas anugerah nikmat ini. Kemudian saya diminta mandi ([1] Sebagaimana hadits Qoish bin ‘Ashim, Ketika beliau masuk Islam, Rasulullah memerintahkannya untuk mandi dengan air yang dicampur bidara. (HR. An-Nasai, at-Turmudzi dan Abu Daud. Dishohihkan oleh al-Albani dalam al-Irwaa’ (128).)) dan berangkat ke al-Masjid al-Aqsho untuk menunaikan shalat dhuhur,
Di tempat tersebut setelah shalat, saya menemui jamaah shalat dengan syahadat, yaitu persaksian kebenaran dan tauhid yang telah Allah anugerahkan kepadaku. Setelah saya mengetahui bahwa siapa saja yang masuk Islam wajib baginya berkhitan, maka segala puji dan anugerah milik Allah, saya tunaikan kewajiban berkhitan tersebut sebagai bentuk meneladani bapaknya para nabi, yaitu Ibrahim q yang melakukan khitan pada usia 80 tahun (Sebagaimana Rasulullah n bersabda : Ibrahim berkhitan ketika umur 80 tahun dengan “al-Qoduum” (nama alat atau tempat).( HR. Al-Bukhori (3356) dan Muslim (2370).)).
Itulah diriku, saya telah memulai hidup baru dibawah naungan agama kebenaran, agama yang penuh dengan kasih sayang dan cahaya. Saya senantiasa menuntut ilmu agama dari kitab Allah Ta’aala dan sunnah Rasulullah n sesuai dengan manhaj salaf (pendahulu) umat ini, dari kalangan para sahabat g beserta siapa saja yang mengikuti mereka dengan baik sampai hari kiamat.
Segala puji bagi Allah atas anugerah Islam dan as-Sunnah.

Dialihbahasakan oleh Abu Zahro Imam Wahyudi Lc. dari majalah ad-Da’wah as-Salafiyah-Palestina edisi perdana, Muharram 1427 H halaman: 21-24.
Read more ...

Izinkan Aku Jadi Bagian Cinta Suamimu (Kisah Nyata)

Aku, seorang akhwat periang (setidaknya, begitulah yang tampak dari luar), berusia 22 tahun. Hidupku penuh dengan kesedihan, sejak kecil sampai tumbuh besar jarang ku kecap bahagia. Tapi ku kelabui dunia dengan sosok ku yang ceria dan penuh canda. Seringkali teman-temanku bertanya, “Ya ukhty, bagaimana caranya supaya tidak pernah sedih seperti anti?”, hanya senyum yang bisa ku beri untuk menjawab pertanyaan yang sesungguhnya pun ingin ku tanyakan pada mereka yang hidupnya bahagia tanpa cela. Tapi sudahlah, tak kan ku ceritakan kisah sedih masa kecilku, ku hanya akan mengisahkan pencarianku akan bahagia.
Dua tahun lalu, tepatnya saat usiaku 20 tahun, aku mulai berfikir untuk melepas kesendirian, ku utarakan niatku pada seorang akhwat senior yang memang sudah beberapa kali menawariku untuk “ta’aruf” dengan beberapa ikhwan yang semuanya kutolak karena berbagai alasan. Sampai ku mengenalnya, lewat sebuah situs pertemanan. Dia, Ubaid (bukan nama sebenarnya), seorang mahasiswa di sebuah perguruan tinggi di timur tengah. Sosoknya yang begitu dewasa, santun, lagi berilmu. Segala yang kucari ada padanya. Sayangnya, dia sudah beristri dan memiliki seorang anak. Kutepis hasratku untuk mengenalnya lebih jauh.
Hari demi hari, entah kenapa aku semakin kagum padanya. Walau belum pernah bertatap muka, tapi diskusi kami lewat “chat”, kedalaman ilmunya, keindahan susunan kata-katanya, sungguh meninggalkan kesan yang begitu dalam di hatiku. Aku mulai jatuh hati padanya. Ubaid, pria beristri itu!
Ternyata rasa-ku tak bertepuk sebelah tangan. Hari selanjutnya ia menelponku, dan ia menanyakan pandanganku tentang polygamy. Tentu aku menjawab bahwa polygamy adalah sunnah. Sunnah yang dibenci kebanyakan orang. Oleh sebab itu, aku kagum pada mereka yang bisa menjalankannya. Pada akhwat-akhwat tangguh yang mampu mengalahkan egoisme dan “hati”nya untuk berbagi orang yang paling dicintainya. Bukankah tak akan sempurna iman seseorang sampai ia mampu memberikan pada saudaranya apa yang dia inginkan untuk dirinya sendiri? Blah blah blah, panjang lebar penjelasanku saat itu. Ubaid mendengarkan, lalu berkata : “ما شاء الله, seandainya semua istri berfikiran seperti anti”. “Maukah anti menjadi permaisuri kedua di istanaku?”
Semburat jingga langit sore itu menjadi saksi bahagiaku mendengar permintaannya. Tapi syukurlah logika-ku masih berjalan. Ku katakan padanya “Bagaimana mungkin antum meminta ana menjadi istri antum sedangkan bagaimana rupa ana-pun antum belum tau? Juga bagaimana nanti respon keluarga ana dan keluarga antum, mungkinkah mereka akan menerima?” Dia hanya diam. Lalu kutanya “Apakah istri antum mengetahui, antum ingin berta’addud?” Dia menjawab “Tidak, tapi pemahamannya sudah baik, insya Allah istri ana akan menerima”. Tersenyum aku mendengarnya. Lalu kami sudahi percakapan sore itu.
“Lebih baik kamu ga usah nikah selamanya daripada jadi istri kedua!” Teriak ibuku, saat ku tanyakan pendapatnya tentang polygamy. Padahal aku belum menanyakan bagaimana pendapatnya jika akulah perempuan yang dipolygamy itu.
Kuutarakan keberatan ibuku kepada Ubaid. Ibuku memang sering melihat contoh polygamy orang-orang tidak berilmu yang hanya mengedepankan nafsu. Itu sebabnya beliau begitu menentangnya. Walau berpuluh kali kukatakan pada ibuku bahwa polygamy yang didasari ilmu dan ketakwaan pada Allah tentu akan berbeda cerita.
Ubaid memintaku untuk terus mendakwahi ibuku sampai beliau mau menerima syariat ta’addud. Diapun melakukan hal yang sama pada istrinya. Meyakinkannya untuk rela berbagi denganku.
Pelan namun pasti, ibuku akhirnya luluh. Beliau tidak lagi mencaci pelaku polygamy, apalagi setelah kuterangkan tentang hukum menolak syari’at atau mengingkari ayat AlQuran. Begitulah ibuku, menentang di awal, kemudian luluh setelah hujjah di tegakkan. الحمد لله . Semoga beliau selalu dalam lindungan dan rahmat-NYA.
Kusampaikan kabar gembira itu pada ubaid lewat sebuah pesan singkat. Dibalasnya dengan “Alhamdulillaah, insya Allah liburan musim panas ini, ana akan menikahi anti”. Senang hatiku tak terkira.
Empat bulan masa penantian terasa begitu lamaaaa.. Tertatih menjaga hati.. Karena memang cara ta’aruf kami tidak sepenuhnya benar.. Kami sering berkomunikasi lewat chat, telpon, dan sms.. Astaghfirullaah..
Hari yang dinanti pun tiba. Ubaid pulang ke Indonesia. Sendiri. Tidak dengan anak istrinya. Pertemuan pertama, semua masih terasa sempurna. Begitupun saat dia meminangku pada kedua orang tuaku. Sosoknya yang “charming” membuat orang tuaku seolah lupa dengan statusnya yang sudah menikah dan memiliki seorang anak. Hingga diakhir pertemuan itu seorang kerabat mengingatkan. Karena Ubaid meyakinkan bahwa pernikahan kami atas izin dan restu istri pertamanya, orang tuaku akhirnya menyerahkan segala keputusan kepadaku. Tentu saja aku menerimanya. Dengan hati berbunga!
Ikhwan nan lucu, cerdas, berilmu dan tampan itu, akan menjadi suamiku! Gadis mana yang tak bahagia dipinang pria sepertinya?
Setelah tanggal disepakati, Ubaid pamit untuk pulang ke kampung halaman dan menjemput orang tuanya. Dia akan kembali lagi bulan depan karena banyak jadwal mengisi kajian di kampung halamannya selama liburan musim panas.
Pada tanggal yang disepakati, Ubaid datang ke rumah. Tapi tidak dengan orang tuanya. Karena ternyata orang tuanya tidak merestui rencana pernikahan kami. Orang tuaku pun tidak akan merestui jika pernikahan ini tidak mendapat restu dari keluarga Ubaid. Buyar sudah rencana kami untuk menikah. Karena Ubaid tidak juga mendapat restu orang tuanya sampai masa liburannya berakhir. Dia kembali ke timur tengah untuk melanjutkan study, dan tentu saja untuk kembali pada istri dan anaknya. Cemburu kah aku? Ah.. Aku bahkan tak berhak sedikitpun untuk cemburu!
Aku hanya bisa menangis dan menangis. Ingin melupakannya saja, tapi rasa untuknya sudah terhujam sedemikian dalam. Astaghfirullaah. Ampuni aku ya Allaah.
Ubaid memintaku untuk menunggu. Dia berjanji akan menikahiku musim panas tahun depan. Aku yang dungu pun menunggu!! Setahun berlalu, beberapa proposal taaruf sudah kutolak dengan alasan “sudah ada calon”. Intensitas komunikasiku dengan Ubaid sudah jauh berkurang. Selain karena kesibukannya menghadapi ujian, juga demi menjaga hubungan kami agar tidak melewati batas.
Hingga tiba masa yang kunantikan. Liburan musim panas tahun berikutnya! Ubaid pulang ke Indonesia dengan istri dan dua anaknya! Ya, DUA anaknya. ternyata istrinya baru saja melahirkan anak kedua mereka.
Kunantikan janjinya. Pekan pertama, kedua, dan ketiga. Saatnya Ubaid datang dan menikahiku! Tapi tak ada kabar darinya! Kutelpon seorang akhwat temanku yang juga adalah tetangganya. temanku mengabarkan, Ubaid sedang menjaga istrinya di Rumah Sakit! Ternyata pekan lalu, istrinya mencoba bunuh diri dan mengancam akan membunuh bayinya setelah mengetahui rencana pernikahan kami! Allahul musta’an
Saat itu juga ku mantapkan niatku untuk mengakhiri semuanya. Walau sedikit terlambat! Ternyata Ubaid tidak pernah menyatakan niatnya menikahiku kepada istrinya, dia berencana melakukannya diam-diam. Dan dia juga tidak pernah memberitahuku bahwa istrinya mengidap depresi berat.
Singkat kata, aku menyiakan 1,5 tahun usiaku untuk menunggu seseorang yang tak layak kutunggu!
Hikmah apa yang bisa kita ambil dari kisah fulanah diatas?
Poligamy memang adalah sunnah yang sangat mulia. Apalagi sunnah yang satu ini seringkali di anak tirikan bahkan oleh umat muslim sendiri. Jadi tak perlu lagi di ragukan atau di perdebatkan tentang hukum dan keutamaannya.
Justru yang patut kita soroti adalah adab “calon” pelaku poligamy.
Betapa sering kita jumpai kisah seperti di atas walau mungkin tidak sedramatis itu? Betapa banyak wanita-wanita yang harus “patah hati” karena merasa di permainkan oleh “calon pelaku poligamy”? Setelah menabung harap, ternyata si ikhwan hanya “coba-coba”. Ternyata ia belum benar-benar siap dan belum “menyiapkan” keluarganya.
So, bapak-bapak, kalau mau nikah lagi yang ‘wise’ ya. Jangan grusa grusu cari akhwat dulu kalau belum benar-benar siap dan sanggup bersikap “jantan” menghadapi semua rintangan .
Walaupun izin dan restu istri/keluarga tidak wajib ada, tapi setidaknya akan mengurangi banyak hal tidak menyenangkan di kemudian hari. Kalaupun mau lanjut tanpa izin dan restu keluarga, silahkan saja, asal mampu menanggung segala resiko dan akibatnya. Jangan malah lari di tengah jalan, sementara ada akhwat yang menangis karena terlalu awal menabung harap.
Untuk saudari-saudariku tercinta di luar sana, jangan gampang “main hati”.. Buang jauh-jauh rasa cinta dan sejenisnya sampai akad sudah terucap.. selain menghindarkan diri dari dosa juga menghindarkan diri dari sakit hati insya Allah..
(Kisah ini adalah sebuah kisah nyata yang diceritakan oleh seorang akhwat yang bersangkutan,,tapi untuk info detailnya sengaja di samarkan.)
Sumber: Strawberry (dengan sedikit perubahan)
Read more ...

Kisah Masuk Islamnya Ustadz Felix Siauw

“Jika kamu masih mempunyai banyak pertanyaan, maka kamu belum dikatakan beriman, Iman adalah percaya apa adanya, tanpa reserve”.

Begitulah kira-kira suatu pernyataan yang akan selalu saya ingat didalam hidup saya. Waktu itu saya masih seorang penganut Kristen Katolik berusia 12 tahun yang banyak sekali pertanyaan didalam hidup saya. Diantara pertanyaan-pertanyaan itu, tiga pertanyaan yang paling besar adalah: Darimana asal kehidupan ini, Untuk apa adanya kehidupan ini, dan akan seperti apa akhir daripada kehidupan ini. Dari tiga pertanyaan tersebut muncullah pertanyaan-pertanyaan turunan, “Kenapa tuhan pencipta kehidupan ini ada 3, tuhan bapa, putra dan roh kudus? Darimana asal tuhan bapa?”, atau “Mengapa tuhan bisa disalib dan dibunuh lalu mati, lalu bangkit lagi?”. Jawaban-jawaban itu selalu akan mendapatkan jawaban yang mengambang dan tak memuaskan.

Ketidakpuasan lalu mendorong saya untuk mencari jawaban di dalam alkitab, kitab yang datang dari tuhan, yang saya pikir waktu itu bisa memberikan jawaban. Sejak saat itu, mulailah saya mempelajari isi alkitab yang belasan tahun tidak pernah saya buka secara sadar dan sengaja. Betapa terkejutnya saya, setelah sedikit berusaha memahami dan mendalami alkitab, saya baru saja mengetahui pada saat itu jika 14 dari 27 surat dari injil perjanjian baru ternyata ditulis oleh manusia, saya hampir tidak percaya bahwa lebih dari setengah isi kitab yang katanya kitab tuhan ditulis oleh manusia, yaitu Santo Paulus. Lebih terkejut lagi ketika saya mengetahui bahwa sisa kitab yang lainnya juga merupakan tulisan tangan manusia setelah wafatnya Yesus. Sederhananya, Yesus pun tidak mengetahui apa isi injilnya. Lebih dari itu semua, konsep trinitas yang menyatakan tuhan itu tiga dalam satu dan satu dalam tiga (Bapa, Anak, dan Roh Kudus) yang merupakan inti dari ajaran kristen pun ternyata adalah hasil konggres di kota Nicea pada tahun 325 M. Ketika proses mencari jawaban di dalam alkitab pun, saya menemukan sangat sedikit sekali keterangan yang diberikan di dalam alkitab tentang kehidupan setelah mati hari kiamat dan asal usul manusia.

Setelah proses pencarian jawaban di dalam alkitab itu, saya memutuskan bahwa agama yang saya anut tidaklah pantas untuk dipertahankan atau diseriusi, karena tidak memberikan saya jawaban atas pertanyaan mendasar saya, juga tidak memberikan kepada saya pedoman dan solusi dalam menjalani hidup ini. Sejak saat itu, saya memutuskan untuk menjadi seseorang yang tidak beragama, tetapi tetap percaya kepada Tuhan. Saya mengambil kesimpulan bahwa semua agama tidak ada yang benar, karena sudah diselewengkan oleh penganutnya seiring dengan waktu. Saya menganggap semua agama sama, tidak ada yang benar dan tidak ada yang salah. Saya juga berpandangan bahwa Tuhan laksana matahari, dimana para nabi dengan agamanya masing-masing adalah bulan yang memantulkan cahaya matahari, dan pemantulan itu tidak ada yang sempurna, sehingga agama pun tidak ada yang sempurna Tanpa sadar waktu itu saya masuk kedalam ideologi sekular. Menjadilah saya manusia yang sinkretis dan pluralis pada waktu itu.

Tetapi semua pandangan itu berubah 5 tahun kemudian ketika saya memasuki semester ketiga saya ketika berkuliah di salah satu PTN. Saya menemukan bahwa teori saya bahwa semua agama itu sama hancur samasekali dengan adanya realitas baru yang saya dapatkan. Lewat pertemuan saya dengan seorang ustadz muda aktivis gerakan da’wah islam internasional, perkenalan saya dengan al-Qur’an dimulai. Diskusi itu bermula dari perdebatan saya dengan seorang teman saya tentang kebenaran. Dia berpendapat bahwa kebenaran ada di dalam al-Qur’an, sedangkan saya belum mendapatkan kebenaran. Sehingga dipertemukanlah saya dengan ustadz muda ini untuk berdiskusi lebih lanjut.

Setelah bertemu dan berkenalan dengan ustadz muda ini, saya lalu bercerota tentang pengalaman hidup saya termasuk ketiga pertanyaan hidup saya yang paling besar. Kami lalu berdiskusi dan mencapai suatu kesepakatan tentang adanya Tuhan pencipta alam semesta. Adanya Tuhan, atau Sang Pencipta memanglah sesuatu yang tidak bisa disangkal dan dinafikkan bila kita benar-benar memperhatikan sekeliling kita. Tapi saya lalu bertanya pada ustadz muda itu “Saya yakin Tuhan itu ada, dan saya berasal dari-Nya, tapi masalahnya ada 5 agama yang mengklaim mereka punya petunjuk bagi manusia untuk menjalani hidupnya. Yang manakah lalu yang bisa kita percaya?!”. Ustadz muda itu berkata “Apapun diciptakan pasti mempunyai petunjuk tentang caranya bekerja” lalu dia menambahkan “Begitupun juga manusia, masalahnya, yang manakah kitab petunjuk yang paling benar dan bisa membuktikan diri kalau ia datang dari Sang Pencipta atau Tuhan yang Maha Kuasa” lalu diapun membacakan suatu ayat dalam al-Qur’an:

Kitab (Al Quran) Ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa (TQS al-Baqarah [2]:2)

Ketika saya membaca ayat ini saya terpesona dengan ketegasan dan kejelasan serta ketinggian makna  daripada kitab itu. Mengapa penulis kitab itu berani menuliskan seperti itu?. Seolah membaca pikiran saya, ustadz itu melanjutkan “kata-kata ini adalah hal yang sangat wajar bila penulisnya bukanlah manusia, ciptaan yang terbatas, Melainkan Pencipta. Not creation but The Creator. Bahkan al-Qur’an menantang manusia untuk mendatangkan yang semacamnya!”

Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Quran yang kami wahyukan kepada hamba kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Al Quran itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar (TQS al-Baqarah [2]: 23)

Waktu itu saya membeku, pikiran saya bergejolak, seolah seperti jerami kering yang terbakar api. Dalam hati saya berkata “Mungkin inilah kebenaran yang selama ini saya cari!”. Tetapi waktu itu ada beberapa keraguan yang menyelimuti diri saya, belum mau mengakui bahwa memang al-Qur’an adalah suatu kitab yang sangat istimewa, yang tiada seorangpun yang bisa mendatangkan yang semacamnya. Lalu saya bertanya lagi “Lalu mengapa agama yang sedemikian hebat malah terpuruk, menjadi pesakitan, hina dan menghinakan dirinya sendiri?”. Dengan tersenyum dan penuh ketenangan ustadz muda itu menjawab “Islam tidak sama dengan Muslim. Islam sempurna, mulia dan tinggi, tidak ada satupun yang tidak bisa dijelaskan dan dijawab dalam Islam. Muslim akan mulia, tinggi juga hebat. Dengan satu syarat, mereka mengambil Islam secara kaffah (sempurna) dalam kehidupan mereka”

“Jadi maksud ustadz, muslim yang sekarang tidak atau belum menerapkan Islam secara sempurna?!” sata menyimpulkan.

“Ya, itulah kenyataan yang bisa Anda lihat” tegas ustadz muda itu.

Lalu saya dijelaskan panjang lebar tentang maksud bahwa Islam berbeda dengan Muslim. Penjelasan itu sangat luar biasa, sehingga memperlihatkan bagaimana sistem Islam kaffah bekerja. Sesuatu yang belum pernah saya dengar tentang Islam sampai saat itu, sesuatu yang tersembunyi (atau sengaja disembunyikan) dari Islam selama ini. Saat itu saya sadar betul kelebihan dan kebenaran Islam. Hanya saja selama ini saya membenci Islam karena saya hanya melihat muslimnya bukan Islam. Hanya melihat sebagian dari Islam bukan keseluruhan.

Akhirnya ketiga pertanyaan besar saya selama ini terjawab dengan sempurna. Bahwa saya berasal dari Sang Pencipta dan itu adalah Allah SWT. Saya hidup untuk beribadah (secara luas) kepada-Nya karena itulah perintah-Nya yang tertulis didalam al-Qur’an. Dan al-Qur’an dijamin datang dari-Nya karena tak ada seorangpun manusia yang mampu mendatangkan yang semacamnya. Setelah hidup ini berakhir, kepada Allah saya akan kembali dan membawa perbuatan ibadah saya selama hidup dan dipertanggungjawabkan kepada-Nya sesuai dengan aturan yang diturunkan oleh Allah. Setelah yakin dan memastikan untuk jujur pada hasil pemikiran saya. Saya memutuskan:

“Baik, kalau begitu saya akan masuk Islam!”

Saya tahu, saya akan menemui banyak sekali tantangan ketika saya memutuskan hal ini. Saya memiliki lingkungan yang tendensius kepada Islam dan saya yakin keputusan ini tidak akan membuat mereka senang. Tapi bagaimana lagi, apakah saya harus mempertahankan perasaan dan kebohongan dengan mengorbankan kebenaran yang saya cari selama ini?!. “Tidak, sama sekali tidak” saya memastikan pada diri saya sendiri lagi. Artinya walaupun tantangan di depan mata, saya yakin bahwa Allah, yang memberikan saya semuanya inilah yang pantas dan harus didahulukan.

Setelah menemukan Islam, saya menemukan ketenangan sekaligus perjuangan. Ketenangan pada hati dan pikiran karena kebenaran Islam. Dan perjuangan karena banyak muslim yang masih terpisah dengan Islam dan tidak mengetahui hakikat Islam seperti yang saya ketahui, kenikmatan Islam yang saya nikmati dan bangga kepada Islam seperti saya bangga kepada Islam. Dan mudah-mudahan, sampai akhir hidup saya dan keluarga saya, kami akan terus di barisan pembela Islam yang terpercaya. Janji Allah sangat jelas, dan akan terbukti dalam waktu dekat. Allahuakbar!

Dan Allah Telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa dia sungguh- sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana dia Telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang Telah diridhai-Nya untuk mereka, dan dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, Maka mereka Itulah orang-orang yang fasik (TQS an-Nuur [24]: 55)

Terimakasih Allah SWT, telah memberiku al-Qur’an dan taufik. Terimakasih wahai rasulullah Muhammad saw. atas kasih sayang dan perjuangannya. Terimakasih untuk Mami yang telah melahirkan dan mengasuh serta membesarkanku. Papi atas pelajaran nalar dan kritisnya sehingga aku bisa menemukan Islam. al-Ustadz Fatih Karim atas kesabaran dan persaudaraanya. al-Ustadz Ahmad Muhdi atas kritik dan perhatiannya. Ummi Iin atas percaya dan penurutnya. Teman-teman HDHT, terimakasih atas bimbingannya
Felix Siauw
Read more ...

Kisah Makam Seukuran Ubin dan Seorang Gadis ABG Mualaf di Jerman

Beberapa waktu yang lalu, kami membaca sebuah kisah yang ditulis salah seorang sahabat kami (muslimah) yang sedang belajar di kota Duisburg, Jerman. Beliau menceritakan kisahnya ketika bertemu dengan salah seorang gadis remaja di Jerman selama bulan Ramadhan kemarin. Kisah yang membuat hati ini merinding karena gadis Jerman muallaf tersebut telah mengajarkan kepada kita bagaimanakah seharusnya bersikap dalam menjalani kehidupan di dunia ini. Atas ijin sahabat kami tersebut, kami tulis ulang kisah ini dengan beberapa penyesuaian ejaan dan tanda baca tanpa mengubah makna. Selanjutnya, kami membahas beberapa faidah yang bisa kita ambil dari kisah tersebut.

Kisah Makam Seukuran Ubin dan Seorang Gadis ABG Mualaf di Jerman

Beberapa waktu yang lalu aku melewati pemakaman orang Jerman. Terlihat seperti taman bunga, dengan deretan bunga warna-warni kecuali ada nisan menyembul di sela-selanya. Tampaknya kebiasaan orang Jerman menanam bunga di atas makam. Kalau tidak langsung ditanam di atas tanah, kadang pot-pot bunga diletakkan di atasnya. Tapi bukan ini yang aneh.
Setelah melewati komplek pemakaman penuh bunga, aku melewati komplek pemakaman berbaris dan berderet yang masing-masing besarnya hanya seukuran ubin. Membuatku berpikir lama. Makam apakah ini? Mengapa kecil sekali? Makam binatangkah? Maklum, orang Jerman ini mencintai anjing sebagaimana mencintai anak.
Ternyata makam kecil ini adalah makam abu. Makam manusia yang dibakar dan abunya dikubur. Saking begitu atheisnya sebagian besar orang Jerman, mereka tidak percaya dengan kematian. Tidak pula percaya dengan kehidupan setelah kematian. Harga tanah untuk pemakaman sangat mahal dan biaya perawatan dan sewanya per tahun juga sangat mahal. Jadi, tidak jarang orang Jerman -sekalipun kaya- karena berpikir terlalu ‘realistis’, tidak sedikit pun takut kematian dan tidak ingin memberatkan orang yang masih hidup, mereka berwasiat dibakar saja. Kadang kalau ingin anonim atau tidak ingin memberatkan lagi, abunya diterbangkan saja di udara. Dan jika masih ingin dikenang tapi dengan sewa tanah murah cukup menyewa tanah pemakaman seukuran ubin. Dan itulah deretan makam yang kulihat saat itu.
Selanjutnya, aku melompat ke kisah pertemuanku dengan seorang muslimah Jerman (mualaf) yang masih muda. Dia masih SMU dan sebagaimana kebiasaan umumnya remaja Jerman saat puber, mereka mulai memisahkan diri tinggal dari ortunya. Biasanya mereka akan tinggal bersama pacarnya di apartemen. Dan muslimah mualaf ini pun mempunyai masa lalu seperti itu. Hingga dia memeluk Islam secara diam-diam, dan mencari Islam lewat internet dan kini dia tinggal seorang diri. Kadang sepekan sekali dia mengunjungi orang tuanya. Tetapi jika hendak memasuki rumah ortunya, dia akan tengok kanan kiri dulu hingga tidak ada orang, lalu di depan pintu dia melepas jilbabnya. Alasannya, karena ayahnya memiliki penyakit jantung dan selama ini ayahnya sangat membenci Islam. Jadi dia tidak ingin ayahnya kaget lalu memperparah sakitnya.
Perlu Anda ketahui, meskipun dia baru berjilbab saat awal ramadhan kemarin, tapi dari pertama aku bertemu dengannya saat ramadhan, kerudungnya menjuntai hingga selutut, dan dia menggunakan rok lebar berwarna gelap. Simpel dan polos. Inilah yang membuatku penasaran. Aku bertanya darimana dia mengetahui tentang jilbab hingga memutuskan berjilbab seperti ini. Padahal menurut pengakuannya, sebelum masuk Islam dia senang menggunakan pakaian minim dan sexy. Dia menjawab, mengetahuinya dari internet. Rasa penasarannya terhadap Islam sangat kuat hingga dia mencari apa-apa dari internet karena memang dia tidak tahu ke mana dia harus bertanya. Lalu apa yang membuatnya berani berubah sedrastis ini? Dia menjawab: karena dia merenungi kematian. Dulu sebagaimana remaja yang lahir dan tumbuh di negara macam Jerman pada umumnya, dia tidak percaya Tuhan hingga dia mulai berpikir tentang kematian.
“Mengapa kamu memilih Islam?”, tanyaku lagi semakin penasaran. Lalu dia bercerita bahwa sejak sekolah setingkat SD dia memiliki teman-teman muslim yang berkebangsaan Turki, karena bangsa Turki adalah komunitas muslim yang mendominasi Jerman. Sayangnya, tidak ada satu pun dari mereka hingga remaja yang menjalankan agamanya, tetapi orang tua mereka terkadang ada yang masih menjalankannya, meskipun ala kadarnya. Saat berkunjung ke rumah teman-temannya yang muslim dan melihat orang tua mereka masih menjalankan syariat Islam, itulah yang membuat dia berpikir bahwa begitulah seharusnya orang menjalani hidup. Lalu entah bagaimana dia juga selalu merasa tenang setiap mendengar bacaan Al-Qur’an. Dari rasa penasarannya itu, tujuh tahun dia membaca-baca tentang Islam dari internet hingga akhirnya dia memutuskan masuk Islam. “I feel like I am addicted to Islam”, begitulah pengakuannya.
Dia menunjukkan mobile phone-nya yang berisi list murotal Al-Qur’an. “Aku sudah mencoba mendengar semua reciter yang ada di sini, tapi aku paling suka yang ini,” katanya. Dia senang mendengar bacaan Al-Qur’an sehingga pernah aku menemuinya sedang mendengarkan murotal sambil jalan sebagaimana remaja-remaja seusianya mendengarkan musik, meski dia tidak mengetahui sedikit pun artinya. Jawabannya selalu sama, “I feel like I am addicted.”
Lalu beberapa waktu yang lalu tiba-tiba dia berkata padaku, “Aku akan segera menceritakan ke ayahku bahwa aku adalah muslim. Aku benar-benar ingin segera,” katanya. “Kenapa?” tanyaku penasaran karena baru beberapa hari yang lalu dia bercerita dia akan memberitahukan ke ayahnya pelan-pelan saja karena khawatir penyakit ayahnya semakin parah. Jawabannya itu yg akhirnya benar-benar membuatku merinding.
“Aku sangat menyayangi ayahku dan aku mendengar ayahku berwasiat jika dia meninggal dia ingin dibakar, dan aku tidak ingin itu. Aku harus membawakannya banyak buku-buku Islam dan aku akan memintanya mendengarkan Al-Qur’an agar dia masuk Islam dan aku menginginkannya segera, agar jika dia meninggal dia telah menjadi muslim dan dia tidak menginginkan dibakar lagi.”
Lalu dia melanjutkan kata-katanya lagi, “Aku juga harus segera menulis surat wasiat. Usia manusia tidak ada yang tahu. Jika nanti meninggal, aku tidak ingin orang tuaku memakamkanku dengan prosesi pemakaman bukan Islam. Orang tuaku harus segera tahu bahwa aku muslim dan aku akan membuat wasiat dimakamkan harus secara muslim. Aku juga harus mulai menabung karena biayanya sangat besar, jika orang tuaku tidak setuju mereka tetap harus melaksanakan wasiatku karena prosesi itu semua akan menggunakan uang tabunganku sendiri, bukan uang mereka.”
Sebelumnya perlu saya sampaikan, bahwa dia ini muallaf, masih SMU, baru berjilbab awal ramadhan kemarin, dan dia dalam kondisi sehat wal afiat saat ini dan insya Allah tidak sedang sakit apa pun. Tapi itulah sedikit dari penuturannya yg membuatku terkesan.

Beberapa Faidah dari Kisah di Atas

Membaca cerita di atas, setidaknya ada beberapa faidah yang bisa kita ambil.
1- Keimanan terhadap hari akhir, pembeda seorang muslim dengan orang kafir
Di antara pokok keimanan yang membedakan seorang muslim dengan orang kafir adalah keimanan terhadap hari akhir. Keimanan terhadap hari akhir meliputi keimanan terhadap fitnah qubur, hari kiamat, hari kebangkitan, surga dan neraka. Allah Ta’ala berfirman,
إِنَّ السَّاعَةَ لَآَتِيَةٌ لَا رَيْبَ فِيهَا وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يُؤْمِنُونَ
“Sesungguhnya hari kiamat pasti akan datang, tidak ada keraguan tentangnya. Akan tetapi kebanyakan manusia tiada beriman.” (QS. Al-Mu’min [40]: 59)
Dari kisah di atas, sangat jelas terlihat bagaimana gambaran kehidupan seorang kafir yang tidak percaya terhadap adanya kehidupan setelah kematian. Mereka menganggap bahwa kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia semata, dan setelah itu mereka mati dan selesailah segala urusan, tidak ada pertanggungjawaban. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan jika kehidupan mereka hanya diisi dengan sibuk mengejar dunia dan segala kesenangan di dalamnya. Sebagaimana yang kami lihat sendiri, mayoritas hari-harinya diisi dengan bekerja dari pagi sampai malam; ketika akhir pekan tiba, saatnya untuk pesta sampai pagi, tidur panjang di siang harinya, atau rekreasi ke berbagai negara dan lain sebagainya.
2- Islam dan As-Sunnah, kenikmatan yang hakiki
Namun jangan dikira bahwa kehidupan seperti itu adalah kehidupan yang menyenangkan. Kehidupan seperti ini adalah kehidupan monoton, yang kosong tanpa isi. Oleh karena itu, seseorang masih berada dalam fitrahnya seperti gadis Jerman di atas, dia akan mudah melihat dan merasakan bahwa kehidupan seorang muslim yang hari-harinya diisi dengan beribadah kepada Allah Ta’ala, berdzikir dan membaca Al Qur’an, itulah kehidupan yang sebenarnya. Kehidupan seperti inilah yang merupakan kenikmatan yang membahagiakan hati dan menentramkan jiwa-jiwa manusia.
Nikmat berjalan di atas Islam dan As-Sunnah inilah nikmat yang hakiki dan kita diperintahkan oleh Allah Ta’ala untuk terus mencarinya. Ibnu Qoyyim Al-Jauziyah rahimahullah berkata,Nikmat itu ada dua, nikmat muthlaqoh (mutlak) dan muqoyyadah (nisbi/relatif). Nikmat muthlaqoh adalah nikmat yang mengantarkan kepada kebahagiaan yang abadi, yaitu nikmat Islam dan Sunnah. Nikmat inilah yang diperintahkan oleh Allah kepada kita untuk memintanya dalam doa kita agar Allah menunjukkan kepada kita jalan orang-orang yang Allah karuniakan nikmat itu padanya”. (Ijtima’ Al-Juyuus Al-Islamiyyah, hal 5)
Kenikmatan ini hanya Allah Ta’ala berikan khusus kepada hamba-hambaNya yang dicintai-Nya. Dengan nikmat inilah kita dapat meraih surga beserta segala kemewahan di dalamnya. Oleh karena itu, ketika shalat kita selalu berdoa,
اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ (6) صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ (7)
”Tunjukilah kami jalan yang lurus. (Yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.” (QS. Al Fatihah [1]: 6-7)
Inilah nikmat yang hendaknya membuat hati kita bergembira dan berbahagia, melebihi berbagai nikmat duniawi yang Allah Ta’ala anugerahkan kepada kita. Allah Ta’ala berfirman,
قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ
“Katakanlah, ‘Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Karunia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.’” (QS. Yunus [10]: 58)
Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan “karunia Allah” dalam ayat di atas adalah Al Qur’an, yang merupakan nikmat dan karunia Allah yang paling besar serta keutamaan yang Allah berikan kepada hamba-Nya. Sedangkan yang dimaksud dengan “rahmat-Nya” adalah agama dan keimanan. Dan keduanya itu lebih baik dari apa yang kita kumpulkan berupa perhiasan dunia dan kenikmatannya. (Lihat Taisiir Karimir Rahmaan, hal. 367)
Adapun nikmat berupa berupa harta dan kesenangan duniawi, maka inilah yang sifatnya nisbi (nikmat muqayyadah). Karena nikmat semacam ini juga Allah Ta’ala karuniakan kepada hamba-hamba-Nya yang kafir. Bisa jadi mereka lebih banyak hartanya dibandingkan kita. Mungkin pula kenikmatan berupa harta ini adalah bentuk istidroj (tipuan) dari Allah Ta’ala sehingga manusia semakin tersesat dan semakin menjauh dari jalan-Nya yang lurus. Atau bisa jadi merupakan bentuk ujian dari Allah kepada manusia.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا رَأَيْتَ اللَّهَ يُعْطِى الْعَبْدَ مِنَ الدُّنْيَا عَلَى مَعَاصِيهِ مَا يُحِبُّ فَإِنَّمَا هُوَ اسْتِدْرَاجٌ …
“Jika Allah memberikan kenikmatan kepada seorang hamba padahal dia tetap dengan maksiat yang dikerjakannya, maka sesungguhnya itu adalah istidroj …” (HR. Ahmad dalam Al-Musnad (IV/145) no. 17349. Dinilai shahih oleh Syaikh Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah no. 413).
Marilah kita merenungkan firman Allah Ta’ala,
فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ
“Maka ketika mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka. Sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong. Maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.” (QS. Al-An’am [6]: 44)
3- Nasihat terbaik itu adalah kematian
Sesuatu yang mencengangkan hati kita membaca kisah di atas bahwa mengingat kematian adalah faktor pendorong sampainya hidayah kepada gadis tersebut. “Kematian”, inilah penghancur kenikmatan yang mungkin susah payah kita raih selama hidup di dunia. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ
Perbanyaklah mengingat pemutus kelezatan.” (HR. An-Nasai, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad. Hadits ini dinilai hasan shahih oleh Syaikh Al-Albani).
Yang dimaksud dengan “pemutus kelezatan” dalam hadits di atas adalah kematian. Kematian disebut haadzim” (pemutus) karena menjadi sebab pemutus kelezatan dunia.
Betapa banyak di antara kita yang sering mengantar jenazah sampai ke pekuburan, namun hal itu tidak mampu menjadi nasihat untuk memperbaiki diri kita? Ya Allah, lindungilah kami dari jiwa-jiwa yang mati dan tidak bisa menerima nasihat! Kematian inilah yang seharusnya mengerem kita agar tidak tertipu dan terbuai dengan kehidupan dunia sebagaimana kisah di atas. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أكثروا ذكر هَاذِمِ اللَّذَّاتِ فإنه ما ذكره أحد فى ضيق من العيش إلا وسعه عليه ولا فى سعة إلا ضيقه عليه
Perbanyaklah mengingat pemutus kelezatan (yaitu kematian), karena jika seseorang mengingatnya saat kehidupannya sempit, maka ia akan merasa lapang. Dan jika seseorang mengingatnya saat kehidupannya lapang, maka ia tidak akan tertipu dengan dunia (sehingga lalai akan akhirat).” (HR. Ibnu Hibban dan Al-Baihaqi. Hadits ini dinilai hasan oleh Syaikh Al-Albani).
4- Tidak mungkin berkumpul dalam satu jiwa: kecintaan terhadap musik dan kecintaan terhadap Al-Qur’an
Faidah berikutnya dari kisah di atas adalah bahwa kecintaan seseorang terhadap Al-Qur’an akan menyingkirkan kecintaan terhadap musik dan nyanyian. Sebaliknya, kecintaan seseorang terhadap musik dan nyanyian akan menyingkirkan kecintaan terhadap Al-Qur’an. Tidak mungkin kecintaan terhadap keduanya berkumpul dalam satu jiwa yang sama. Ketika hati gadis Jerman di atas mulai mencintai Al-Qur’an, maka hal itu mendorongnya untuk meninggalkan musik dan nyanyian. Berbeda dengan kebanyakan gadis ABG yang kita lihat, saking cintanya mereka terhadap musik dan nyanyian, sampai-sampai hapal puluhan nyanyian dengan begitu mudahnya, namun mereka sulit untuk diajak menghapal Al-Qur’an. Maka benarlah bahwa nyanyian merupakan salah satu cara setan untuk menjauhkan manusia dari jalan Allah Ta’ala.
Allah Ta’ala berfirman,
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَيَتَّخِذَهَا هُزُوًا أُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ مُهِينٌ
“Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan.” (QS. Luqman [31]: 6)
Tentang maksud dari firman Allah Ta’ala “perkataan yang tidak berguna” dalam ayat di atas, Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata,”Demi Allah yang tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Dia semata, (yang dimaksud dengan ‘perkataan yang tidak berguna’) adalah nyanyian”. Beliau mengulangi sumpahnya tersebut sampai tiga kali. Demikian pula yang dikatakan oleh Ibnu Abbas, Jabir, Ikrimah, Sa’id bin Jubair, Mujahid, Ma’khul, Amr bin Syu’aib, dan Ali bin Badzimah radhiyallahu ‘anhum. (Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-‘Adzim, 6/330-331)
Umar bin Abdul Aziz rahimahullah pernah menulis surat kepada pendidik anak-anaknya. Beliau rahimahullah berkata, ”Hendaklah yang mereka ketahui pertama kali dari pengajaranmu adalah rasa benci terhadap alat-alat musik. Karena hal itu berawal dari setan dan mendatangkan kebencian dari Ar-Rahman. Sungguh telah sampai kepadaku dari orang-orang terpercaya yang berilmu, bahwa menghadiri tempat musik dan mendengarkan nyanyian akan menumbuhkan sifat kemunafikan di dalam dada sebagaimana air menumbuhkan rerumputan”. (Ighatsatul Lahfan, 1/250)
5- Dakwah kepada orang tua dan keluarga terdekat
Nasihat penting dari kisah di atas adalah hendaknya kita tidak melupakan dakwah kepada orang tua kita. Mungkin di antara kita ada yang begitu bersemangat untuk berdakwah kepada teman atau masyarakat luas pada umumnya, namun justru merupakan orang tuanya sendiri. Kita biarkan orang tua kita masih tenggelam dalam kebodohan terhadap ilmu agama, terjerumus dalam berbagai macam kemusyrikan atau kebid’ahan. Padahal, bagaimana mungkin kita melupakan dakwah kepada orang tua, sedangkan Allah Ta’ala memerintahkan,
وَأَنْذِرْ عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِينَ
“Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat.” (QS. Asy-Syu’ara [26]: 214)
Demikianlah yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim ‘alaihis salaam, beliau berdakwah kepada bapaknya sebagaimana yang Allah Ta’ala ceritakan dalam Al-Qur’an,
وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّهُ كَانَ صِدِّيقًا نَبِيًّا (41) إِذْ قَالَ لِأَبِيهِ يَا أَبَتِ لِمَ تَعْبُدُ مَا لَا يَسْمَعُ وَلَا يُبْصِرُ وَلَا يُغْنِي عَنْكَ شَيْئًا (42) يَا أَبَتِ إِنِّي قَدْ جَاءَنِي مِنَ الْعِلْمِ مَا لَمْ يَأْتِكَ فَاتَّبِعْنِي أَهْدِكَ صِرَاطًا سَوِيًّا (43) يَا أَبَتِ لَا تَعْبُدِ الشَّيْطَانَ إِنَّ الشَّيْطَانَ كَانَ لِلرَّحْمَنِ عَصِيًّا (44) يَا أَبَتِ إِنِّي أَخَافُ أَنْ يَمَسَّكَ عَذَابٌ مِنَ الرَّحْمَنِ فَتَكُونَ لِلشَّيْطَانِ وَلِيًّا (45)
“Ceritakanlah (hai Muhammad) kisah Ibrahim di dalam Al-Kitab (Al-Qur’an) ini. Sesungguhnya dia adalah seorang yang sangat membenarkan lagi seorang nabi. Ingatlah ketika dia berkata kepada bapaknya, “Wahai bapakku, mengapa kamu menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat dan tidak dapat menolong kamu sedikit pun?  Wahai bapakku, sesungguhnya telah datang kepadaku sebagian ilmu pengetahuan yang tidak datang kepadamu, maka ikutilah aku, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus. Wahai bapakku, janganlah kamu menyembah setan. Sesungguhnya setan itu durhaka kepada Tuhan yang Maha Pemurah. Wahai bapakku, sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan ditimpa azab dari Tuhan yang Maha pemurah, maka kamu menjadi kawan bagi setan”. (QS. Maryam [19]: 41-45)
Begitu pula dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau berdakwah kepada paman-pamannya. Di antaranya, ketika pamannya Abu Thalib hendak meninggal dunia, Rasulullah mendatanginya untuk mendakwahinya agar masuk Islam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada pamannya,
يَا عَمِّ ، قُلْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ ، كَلِمَةً أَشْهَدُ لَكَ بِهَا عِنْدَ اللَّهِ
“Wahai pamanku! Katakanlah ‘laa ilaaha illallah’, suatu kalimat yang dapat aku jadikan sebagai hujjah (argumentasi) untuk membelamu di sisi Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Oleh karena itu, kisah di atas menjadi nasihat berharga agar kita tidak melupakan dakwah kepada orang tua dan keluarga kita yang lainnya.
Demikianlah beberapa faidah yang dapat kami kumpulkan dari kisah di atas. Semoga Allah Ta’ala melembutkan hati kita untuk mudah menerima nasihat dan kebenaran dari siapa pun orangnya.

Selesai ditulis di Rotterdam, Belanda, 24 Dzulhijjah 1434
Penulis: dr. M. Saifudin Hakim, MSc.
Read more ...